Resensi: Belajar Cinta dari Puthut EA melalui Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

1701927_1399b8cc-3077-4e31-a297-9e6f0497f4f5-1Judul buku : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Penulis : Puthut EA
Genre : Fiksi
Cetakan : Februari 2016
Tebal : 257 halaman

Saya mengenal Puthut EA dari karya-karya cerpennya, serta ini adalah perdana bagi saya membaca novel karya beliau. Saya baru menemukan buku ini di tahun 2016 lewat terbitan Mojok, padahal buku ini terbitan 2005. Tak apalah, sebab saya masih merasakan kepuasan tersendiri usai membaca novel ini. Puthut EA sukses mengabadikan kisah di dalam novelnya ini, bahwa barangkali jika kita baca berpuluh tahun lagi karyanya masih tetap mengesankan dan mengagumkan.

Baca lebih lanjut

Opini: Definisi Kebenaran

img_0461Setiap orang selalu berhak mendefinisikan kebenaran. Hingga saya yakin bahwa kebenaran ini bermacam adanya, tanpa ada satu hal yang benar-benar benar atau benar-benar salah. Setelah menjelaskan mengenai kebenaran versi masing-masing, manusia-manusia ini sekuat tenaga mempertahankan kepentingan kebenarannya itu, perdebatan, saling menghina serta mengejek kebenaran lain –yang tentu saja dianggapnya sebagai kebenaran yang salah- bahkan perbedaan pandangan ini menyebabkan konflik, kekerasan, saling bunuh, serta peperangan.

Baca lebih lanjut

Para Kekasih Bulan

tree-66465_960_720Badala masih merasa bahwa dirinya adalah kekasih bulan yang tak sedikitpun dianggap bulan sebagai kekasih. Berkali-kali sudah ia mencoba mengajak bulan sekedar bercakap-cakap, mencoba membicarakan hal-hal kecil yang sepele, mencoba bercerita tentang kisah romantis, tapi bulan tetap saja acuh. Melirik sedikit pun tidak. Agaknya rayuan Badala tak sebagus para kekasih bulan terdahulu. Selalu saja sunyi yang tersisa setelah Badala berbicara agak lama. Tak ada balasan.

Baca lebih lanjut

Percakapan Diantara Bianglala

img20161202224758

Saya pernah mencoba untuk tidak peduli terhadap perkataanmu; ketika percakapan kami berada diantara bianglala. Ketika kamu mencoba mengatakan dan memaknai kehidupan yang telah kamu lalui sebagai seorang yang tengah mencinta, “Saya mencintaimu, Adeline. Namun saya mengetahui, ada seorang lelaki yang mencintaimu lebih dalam, melebihi dalamnya samudra. Saya sendiri dipaksa untuk mengakui perasaannya yang begitu dalam terhadapmu. Kamu lebih pantas bersamanya, Adeline.” Baca lebih lanjut

img20160827113320

“Ada negeri yang tidak mengenal senja, Adeline. Saya pernah mengunjungi negeri itu, negeri penuh dengan biru dan hitam, tanpa merah dikeduanya. Barangkali suatu saat kamu perlu mengunjungi negeri itu, hanya sekedar referensi sebagai inspirasimu dalam menulis. Tanpa senja bukan berarti tanpa inspirasi bukan?”

Soledad

fotografia-conceptual-soledad-2Pria dengan kemeja putih yang amat rapi itu masih melangkah, menyusuri jalanan lengang sebuah kota yang hangus. Pria itu tak henti-hentinya mengingat kenangan. Melihat bangunan perumahan dan gedung-gedung yang terbakar menjadikan hatinya yang lemah itu begidik ketakutan. Ia semacam tak mampu menampung kesedihan. Ia berada saat yang tidak tepat di kota itu; saat kota kesayangannya dirundung kisah paling sedih dalam sejarah bangsa. Sungguh momen yang tak tepat. Sungguh momen mengenaskan. Baca lebih lanjut