Hujan

Hujan

Beberapa siswa lalu lalang keluar sekolah melewati gerbang, mereka berlarian ke arah mobil jemputan, takut terkena hujan, padahal jelas, bahwa tubuh mereka sudah basah, sudah terkena hujan.

Jika benar hujan adalah suatu anugerah dalam hidup ini, aku ingin selalu bertemu dengan hujan, aku ingin menjadi bagian dari hujan. Saat hujan tiba, meneteskan semua sukma kebiruan yang berada di langit, turun ke daratan, ke hati setiap manusia. Dan setiap hati yang melihat hujan, pasti berusaha memiliki hujan, ingin menjadi bagiannya.

Tapi benarkah jika hujan identik dengan hati yang menangis? Menurutku hal itu tidak benar, menurutku hujan adalah ingatan dari masa ke masa, yang membentuk suatu kesatuan sinergi waktu, yang menghasilkan jeritan jiwa. Saat hujan, langit itu menjerit-jerit kesakitan, mereka sudah tak kuasa menahan air di awan, maka turunlah hujan, dan keluarlah segala jeritan jiwa.

Seseorang yang ingin menjadi bagian dari hujan mungkin mengerti makna dari hujan. Mereka juga mengalami jeritan jiwa, gejolak dalam hati mereka, hati mereka memberontak. Bagian-bagian dari hati mereka berteriak, berkelahi, saling membentur, saling menyalahkan, saling mengkhianati, dan saling membohongi perasaan sehingga timbul hujan dalam hati mereka.

Aku tahu semua hal ini berat, tapi itulah yang terjadi padaku, padaku yang ingin menyatu dengan hujan, menjadi bagian dari jeritan hujan. Hatiku saling memberontak.

Aku tahu semua hal ini sulit, hati yang saling memberontak merasakan betapa perih dan sakitnya cinta. Cinta yang hanya selalu membuat luka. Pedih menjalar dalam hati.

Jika benar hujan dapat meresonansikan ingatan pada masa lalu, maka banyak hubungan antara hujan, hati dan cinta.

Cinta. Satu kata yang tak bisa diidentifikasi secara kompleks. Cinta bisa datang dan pergi kapan saja, tak memandang usia, tak memandang latar belakang, itu pendapat dari orang-orang yang sangat tidak kusetujui. Perasaan yang mendebarkan tak selalunya berbentuk cinta. Cinta sering menyakiti dan membuat luka. Aku tak begitu cinta dengan apa yang disebut cinta.

Dalam kisahku, aku mengenal cinta melalui hujan, saat itu hujan tiba, mengguyur kotaku di siang hari, menghujami daratan dengan jeritan jiwanya. Melihat rintik-rintik itu menetes dari sela-sela awan gelap sambil terpaku berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Mendengarkan getaran, gelombang dari tanah akibat percikan hujan. Menghirup segarnya aroma tanah yang terkena air hujan membuatku tenang. Saat itulah cinta datang, menyatukan padu kenangan. Beberapa siswa lalu lalang keluar sekolah melewati gerbang, mereka berlarian ke arah mobil jemputan, takut terkena hujan, padahal jelas, bahwa tubuh mereka sudah basah, sudah terkena hujan.

Beberapa ada yang dijemput oleh sopirnya, sopir bertubuh jangkung itu turun dari mobil, membawakan payung dengan tergopoh gopoh ke arah majikannya, lalu memberikannya pada majikannya, majikannya membuka payung itu, dan menggunakannya, tentu untuk melindungi tubuhnya dari hujan, lalu sopir itu menuntun majikannya hingga masuk ke dalam mobil. Beberapa lagi, yang lebih mandiri menggunakan motor menggunakan mantol yang tebal, juga untuk melindungi dari hujan. Dan beberapa lagi, masih menunggu, menunggu hujan terhenti, seperti aku, menunggu langit menghentikan jeritannya.

Aku tidak begitu memilik banyak teman, saat dari mereka melihatku, aku dapat mengetahui pikiran mereka, dari tatapan mereka terlihat jelas mereka mengatakan “Hati-hati jika bersama dengan dia, dia itu orang jenius”. Ya, mereka menganggapku sangat jenius, banyak sekali orang yang menanggapku jenius. Tapi karena kejeniusanku itulah, mereka semua menjauhiku, membenciku. Atau mereka iri kepadaku? Aku tak tahu penyebabnya, yang jelas terlihat sistem kasta diantara aku dengan teman-teman yang lain, maka tak ayal, aku selalu sendiri, hatiku memberontak, hatiku menjerit jerit, sama dengan hujan ini. Tak ada yang menemaniku, aku selalu sendiri, bersama kalbu kegelapan. Dari kecil pun aku sudah mengalami pahitya dijauhi, pada tingkat sekolah dasar, teman-temanku memiliki tatapan mata yang sama, tatapan yang mengatakan bahwa aku berbeda dari mereka, mereka semua menjauhiku. Di tingkat SMP pun sama saja, aku selalu dijauhi, tanpa teman. Pada tingkat sekarang, di tingkat SMA, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di kota. Disini pun tak jauh berbeda, bahkan perlakuan disini jauh lebih kasar daripada di desa. Semuanya tetap saja menyakitkan.

Apa aku aneh? Ya aneh. Aku tak seperti kebanyakan orang normal, aku sendiri juga dapat merasakan hal itu. Aku “berbeda” dari mereka. Jika diantara teman temanku ada yang jenius, maka aku beberapa kali lipat lebih jenius diantara mereka. Aku sangat mahir dan cerdas dalam hal apapun. Aku juga tak tahu mengapa, tapi cukup dengan sekali pemahaman aku dapat mengerti semua, semuanya. Tak ada yang masalah dengan kecerdasan otakku, yang masalah ada hati, perasaan ini, yang seringkali terusik.

Sekarangpun aku masih sendiri, bersama rintik hujan yang lama kelamaan tidak malah reda melainkan semakin deras. Jeritan ini semakin keras, disaat seperti inilah aku merasakan menyatu dengan hujan, hatiku dengan hujan menjerit bersamaan, menyatu menjadi rasa sakit yang perih.

Aku tinggal tak jauh dari sekolahku. Sudah 2 tahun ini aku hidup sendiri di sebuah kos dekat sekolah. Biaya makan dan kehidupan sehari hariku ditanggung oleh kedua orang tuaku di desa, saban bulan mereka mengirimkan aku uang yang cukup, hanya untuk kehidupanku. Sedangkan pada biaya sekolah, aku mendapatlkan beasiswa yang semua ditanggung jawabi oleh pihak sekolah, mereka yang memerlukanku, membutuhkanku, memerlukan kecerdasanku. Jarak kota antara desaku sangatlah jauh, bahkan melewati selat, menyebrangi dua pulau, maka dari itu sudah dua tahun ini aku tak pulang ke rumah, selain masalah biaya, tenaga yang terkuraspun pasti cukup melelahkan. Cukup dari kejauhan aku menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan keluarga di desa, sekedar menanyakan kabar dan perkembangan di desa. Menanyakan kabar ayahku yang hanya seorang petani, ibuku yang hanya bekerja di rumah, dan kakakku yang 1 tahun lalu minggat dari rumah. Kakakku? Ya. 1 tahun lalu aku mendengar kabar dari ibuku bahwa dia minggat, melarikan dari rumah, melarikan diri dari takdirnya. Tak ada yang tahu penyebabnya. Tapi hingga kini, dia belum kembali ke rumah, dia juga masih tanpa kabar. Itu yang membuat ibuku selalu menangis di setiap malam, di setiap doanya. Karena ibuku telah ditinggal oleh 2 anak lelakinya, yaitu kakakku dan aku. Ibu sering bercerita bahwa beliau sangat merindukan kami berdua. Akupun juga memiliki perasaan yang sama, disini aku juga merindukan ibu dan ayah, sangat merindukan.

Kakakku memang orang aneh, dia dianggap tak waras di desa, dia hampir sama denganku, dia memiliki mata dan tatapan yang sama denganku. “Mata yang aneh” begitu anggapan banyak orang desa. Kami berdua memiliki aura, aura berwarna ungu yang memancarkan gelombang keanehan. Kami juga memiliki gaya pemikiran yang sama, kami juga sangat jenius. Tapi nasibku lebih baik darinya, aku dapat sekolah di luar desa dan mendapatkan pendidikan yang bermutu, sedangkan kakakku? Apakah dia harus melarikan diri untuk melakukan ini? Kenapa juga dia tidak memberi kabar? Tapi yang jelas, aku mengerti satu hal, hatinya hujan, hatinya mengalami suatu gertakan jeritan jiwa yang lama telah menjerit, menjerit jerit kesakitan. Teriris-iris menjadi beberapa bagian, lalu hatinya mencoba memeberontak. Hatinya terluka, saling memberontak satu sama lain, hingga kakakku tak bisa mengontrolnya dan lepas kendali.

Saat hujan tiba, aku dapat mengingat-ingat kejadian masa lalu, meresonansikan semuanya. Aku seperti kembali ke masa lalu, dan melihat semua sejarah yang terjadi padaku dan kakakku. Pernah beberapa kali saat hujan, aku seperti berpindah ke masa lalu melalui dimensi waktu, dan bertemu kakakkku dan aku yang masih kecil, kami bermain bersama. Tertawa, berlarian kesana kemari, bercanda gurau, sungguh masa-masa yang amat indah. Aku tersenyum terpaku melihat aku kecil didekap dalam kasih sayang kakakku. Dia menyayangiku layak kakak dan adik sebagaimana mestinya. Aku pun begitu. Aku sangat menyayangiya. Aku merasakan cinta antara kakak dan adik. Diantara kami terhubung ikatan yang sangat erat, ikatan yang disebut cinta. Maka, aku tak begitu percaya, jika kakakku tega meninggalkan keluargaku. Pergi, pergi dan tak kembali.

Aku tak tahu memiliki keistimewaan apa, yang membuatku menjadi hebat seperti ini, aku bahkan dapat membaca masa lalu dari orang lain hanya dengan menatap matanya, tentu hanya pada saat hujan tiba.Saat hujan tiba aku dapat melakukan sesuatu di luar nalar akal sehat, hal-hal seperti mengerti masa lalu seseorang dan melihat kejadian-kejadian aneh. Apakah ini karena hati yang menjerit? Aku tak tahu. Yang jelas, saat hujan, aku dapat merasakan apapun dan menyatu dengan hujan.

Dan pada hujan kali ini, ingatanku kembali ke masa lalu lagi, dimana aku bertemu dengan kakakku 2 tahun yang lalu sebelum ke kota. Aku melihat semua gerak gerik, sikapnya, dan penglihatannya yang aneh dariku. Dia menyalami tanganku, terasa dingin, sambil menunjukkan senyum palsunya. Ya, palsu. Tiba-tiba semuanya berubah, menjadi hitam, gelap, ingatanku buram, seberkas rintikan hujan yang semakin deras semakin terdengar keras, menandakan hujan semakin lebat. Aku berusaha memejamkan mata. Mendengarkan, mengkhayati dan mencoba lebih menyatu dengan hujan. Mungkin ini yang dinamakan alam bawah sadar. Aku bisa menyatu dengan alam, dengan hujan.

Gelap. Masih gelap. Perlahan namun pasti aku melihat hujan dalam gelapku. Aku merasa terombang-ambing, aku merasa tanah yang kupijak sekarang bergetar. Aku mencoba membuka mata. Semua pemandangan sudah berubah. Diarah depanku, terpampang laut. Aku melihat laut lepas yang gelap. Aku mencoba menengok ke arah kanan dan kiriku, aku menoleh ke belakang, aku terkejut, sekarang aku berada di bagian depan awak kapal. Hujan mengenai seluruh tubuhku, hujan yang sangat lebat. Beberapa orang di belakang berteriak-teriak, menjerit jerit ketakutan. Badai. Hujan ini berbentuk badai. Orang-orang itu berlarian tak menentu mencari perlindungan, tiba tiba tubuhku tergerak sendiri, berlari ke belakang bagian kapal.

“Siapkan perahu darurat!” Teriak beberapa orang yang panik.

Badanku tergerak sendiri, aku tahu badan ini tergerak mencari perahu darurat, badan ini berlarian cepat, mencari perahu itu. Badai semakin ganas. Bergelombang. Kapal terguncang, setiap jiwa disini menjerit dan berdoa, suasana semakin kacau. Tubuhku tergerak membantu beberapa orang yang mencoba mengeluarkan perahu darurat dalam kapal, mataku melihat, mencoba fokus. Tapi sebelum perahu darurat itu berhasil dikeluarkan. Petir menyerang kapal besar ini. Gelombang laut pun sangat kacau. Aku tak pernah mengalami suatu hal yang kacau seperti ini. Aku sudah tak sempat berpikir. Teriakan, jeritan jiwa orang orang disini bersahut sahutan, hujan pun juga berteriak, menjerit jerit keras. Hujan murka. Lambat namun pasti, Kapal ini tenggelam, kapal ini hancur. Aku mencoba tetap fokus dan tenang. Badanku tergerak melihat ke arah lurus, ke arah laut hitam ini. Tampak jelas, ombak yang sangat besar dan tinggin berhadapan dengan mataku. Badanku hanya diam. Aku mencoba menggerakan badanku untuk lari, tapi tetap tak bisa. Badanku tak mau bergerak. Aku memejamkan mata. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Aku mencoba membuka mataku kembali, dan mendapati diriku baik-baik saja, masih sendiri, termenung berdiri di depan gerbang sekolah. Hanya ditemani hujan.

Aku tahu hal ini sulit, tapi dari ini semua aku mengetahui suatu hal, aku tahu dimana keberadaan kakakku sekarang, sekarang dia bersama hujan, mati bersama hujan, terapung dalam luasnya lautan hitam. ***

 

Azinuddin Ikram

Hanya sosok yang menunggu hujan.

Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s