Langit Ungu

 

yoga-twilight-park-bench-silhouette

“Langitnya berwarna ungu ya?” Tanyamu padaku sambil berjalan menghampiriku. Beriringan di sampingku. Aku mencoba melihat ke atas, ke arah hamparan langit itu. Ya. Langit berwarna ungu.

Bagiku. Bagi hidupku, kamu adalah sebagian dari jiwaku. Selalu sebagian dari serpihan bekas kepingan rindu yang pecah, yang hancur, lalu menghilang. Mungkin kamu telah menorehkan segala tulisan puisi kepadaku, puisi-puisi indah tentang rasa itu, berisikan cinta yang saling merajut, yang terjalin dalam kegundahan.

Wajahmu yang berseri-seri saat bersamaku, selalu membuatku tampak menjadi lebih kuat, memberi semangat tersendiri bagi ragaku. Aku merasa nampak menjadi lebih berarti. Aku dan kamu, tak pernah ada yang berani memulai mengungkapkan rasa itu. Meski aku tau, kita telah merasakan perasaan yang sama, sangat lama. Perasaan itu menerpa hati seperti cinta, ah atau mungkin memang cinta. Kamu tampak selalu terkagum-kagum jika melihatku, dengan senyum yang sangat manis kau simpulkan kearahku yang melihatmu. Begitu juga sebaliknya aku padamu. Selalu seperti itu.

Mungkinkah kita memang saling mencintai? Mungkin hanya sajak penuh debu yang mampu menjawab, yang usang jika terhirup rongga-rongga hidung, mungkin memang hanya aku dan kamu saja yang tidak bisa menafsirkan untaian kata itu, kata cinta yang disampaikan debu, tentu debu yang usang.

Aku menunggumu di temaram langit ungu. Menunggu senyummu datang menghampiri, menunggu segala sesuatu tentangmu. Air mancur tampak gemericik berisik di depanku, membuncah ke atas. Aku pandangi dengan iba air mancur itu, airnya tidak begitu jernih, mungkin hanya sedikit kotor, sudah tampak banyak lumut hijau menempel pada bagian bawah kolam itu.
7 Tahun telah berlalu semenjak aku mengenalmu. Semenjak kita bertemu di SMA yang sama dulu. Entah kata apa yang pertama kali terucap saat aku berkenalan denganmu, yang jelas, yang masih kuingat hingga sekarang adalah hatiku bergetar. Berdetak tak karuan. Mungkin, kamu juga merasakan itu. Sejak pertemuan itu kamu selalu menemani hari-hariku, hari-hari indah bersamamu, hari-hari penuh puisi dan sajak yang mengagumkan.

Aku jadi ingat dulu, dulu sekali saat aku dan kamu berjanjian untuk bertemu di taman indah ini. Aku pernah menceritakan tentang mimpi-mimpi kecilku padamu, menceritakan semuanya. Mimpiku yaitu sekolah di Paris. Menuntut ilmu di kota model disana. Kau tersenyum dan sesekali cekikikan mendengarkan ceritaku. Masa yang sangat indah saat itu.

“Aku besok akan sekolah di Paris. Aku akan mengejar beasiswa ke sana.” Ucapku tegas kala itu, saat kita SMA.

Kamu mengangguk mengiyakan perkataanku. “Memangnya kenapa? Ada apa dengan Paris?” Balasmu dengan tatapan berseri-seri penuh tanya.

“Bagiku. Paris adalah sebagian dari mimpi-mimpiku. Aku ingin melihat Eiffel, melihat sejuta keindahan di Paris, Prancis. Aku ingin menuntut ilmu disana! Lalu setelah belajar disana, aku akan pulang, setelah itu mengembangkan negara ini. Aku akan berbakti pada negara ini. Itu Janjiku.”

Kamu hanya tersenyum kagum padaku. “Semoga saja kamu bisa ya.” Dan saat itu, aku merasa ada seseorang yang mengakui keberadaanku, mengakui mimpiku, merasa ada seorang yang memperhatianku. Aku merindukan saat-saat itu. Saat aku dan kamu yang saling bertatapan berseri-seri.

***

Aku masih menunggumu. Kamu sama sekali tak berubah. Aku sangat mengenalmu. Kamu sering datang terlambat dalam menepati janjimu. Aku yakin kali ini kamu pasti terlambat lagi. Sudah 10 menit berlalu dari janji kita bertemu hari ini, di taman ini. Lebih tepatnya di depan air mancur ini, kamu belum juga tiba.

Sore ini suasana basah di kotaku. Tadi siang, hujan deras mengguyur di sini, langit menitikkan butiran-butiran air. Jalanan beraspal masih basah. Hujan tadi siang, secara tidak sengaja semakin memperindah suasana taman kota ini, hanya saja langit yang tidak berwarna kemera-merahan seperti layaknya sore yang diselimuti senja. Hal ini yang sedikit menganggu. Mengusik firasat tenang hingga menjadi gelisah.

Setelah menunggu beberapa menit, kamu hadir seperti biasanya, seperti bidadari, yang menggunakan pakaian suci, putih bersih bersorban, dengan sayap-sayap kecil disisi samping kanan dan kirimu yang hanya aku seorang yang melihat. Kamu menghampiriku yang termangu iba melihatmu. Kamu sungguh seperti bidadari, yang sengaja diturunkan dari surga oleh Maha Kuasa untukku, hanya untukku.

“Maaf, aku terlambat lagi”

“Aku sudah terlalu sering memaafkanmu tentang terlambat.”

“Terimakasih”

“Kamu membantu ibumu memasak lagi ya?”

“Iya”

“Kamu tak membawakannya sedikit untukku?”

“Mungkin lain kali. Aku terburu-buru.”

“Takut aku marah?”

“Mungkin, sepertinya kau juga ingin mengatakan sesuatu yang penting.”

“Tidak biasanya kamu seperti ini”

“Kau yang tidak seperti biasanya”

“Ah sudahlah.” Kataku seraya melangkahkan kaki.

“Langitnya berwarna ungu ya?” Tanyamu padaku sambil berjalan menghampiriku. Beriringan di sampingku. Aku mencoba melihat ke atas, ke arah hamparan langit itu. Ya. Langit berwarna ungu.

“Ya, mungkin langit ini menunjukkan suatu pertanda. Mungkin pertanda buruk.” Jawabku lemah.

Kenapa hari ini saat aku melihatmu datang, aku merasakan gelisah pada sekujur tubuhku. Mungkinkah aku belum siap untuk mempertanyakan kesanggupanmu? Cinta memang beginikah? Sepertinyakamu tampak telah mengetahui isi hatiku. Raut wajahmu tampak berubah. Tampak lelah mendengarkan perkataanku. Tampak lelah menungguku. Menungguku yang telah mati. Yang telah lama dibutakan hati. Tak lama percakapan antara kita berdua berhenti. Sejenak. Sejenak yang menyesakkan. Kau mulai berucap lagi,

“Semoga saja tak terjadi hujan dan tak terjadi hal yang buruk”

Aku hanya mengernyitkan dahi. Tersenyum sebentar ke arahmu. Ke arah raut wajah sedihmu. Pahit sekali yang kurasakan. Batinku benar-benar tertekan, seperti menanggung segala kegundahan. Matamu menuntut semuanya padaku, termasuk rasa itu.

Aku mencoba menafsirkan pandanganmu yang lama-lama berembun. Meneteskan air mata. Kau mencoba menutupi tangismu.

“Ya, semoga saja tak hujan dan hal buruk tidak terjadi.” Ujarku memenuhi pengharapanmu sambil memalingkan senyum dan wajahku dari arahmu. Matamu masih berair, semakin berair.

Suara gemercik air mancur terdengar semakin menjauh. Aku dan kamu,berjalan bersama menjauh dari air mancur itu. Menuju deretan kursi tua yang rapuh. Langit masih menyisakkan misteri. Menyisakkan warna ungu yang tak terbendung, yang seharusnya menjadikan manusia takjub memandangnya, membuat manusia berdecak kagum akan keindahan langit ungu. Dan langit itu tak mungkin dapat dijelaskan, baik dengan teknologi, maupun permainan kata-kata.

Bunga-bunga bermekaran. Tak layu disana, indah. Menciptakan sukma warna-warni yang begitu indah. Hanya saja, kami dikejar oleh langit yang berwarna ungu yang mungkin sudah siap menyemburkan percikan-percikan air ke bumi. Aku menuntunmu duduk di salah satu kursi tua yang berderet. Dan aku duduk di sampingmu. Aku, dan kamu duduk beriringan. Hanya aku dan kamu.
“Baiklah. Kamu benar, aku akan mengatakan sesuatu.”

“Ya. Aku tahu”

“Pengumuman bulan lalu menunjukkan bahwa aku diterima beasiswa itu. Maaf. Aku haus pergi ke Paris.” Ucapku menahan. Aku terjuntai. Terhuyung-huyung kesana-kemari dalam ucapku. Sementara matamu semakin berair.

“Kamu masih mau menungguku?” Lanjutku berucap.

Raut wajahmu tampak semakin sedih. Aku mencoba menunggu bibirmu berucap. Keheningan semakin menjadi-jadi menyelinap merasuki taman indah ini. Kamu tak mengisyratkan apapun untuk menjawab. Hanya tangismu yang terdengar. Aku menatap matamu lekat-lekat. Sayu, sedih. Kamu membalas tatapanku. Pasti hatimu tercabik-cabik. Pedih. Aku tahu kau mencoba tegar. Aku dan kamu sepertinya tak tahu harus bahagia atau sedih mendengar kabar beasiswa yang kuterima.

Secepat itu kah kau pergi? Sampai kapan aku harus menunggu lagi? Pasti kalimat itu yang sekarang menimpa di hatimu, untuk kamu tanyakan padaku. Tapi kenapa kamu tak berani mengungkapkannya? Aku bahkan juga mengetahui isi hatimu, begitu pula kamu terhadapku.

Ah. Aku terlalu jahat karena melakukan ini. Melukai hatimu. Padahal kamu menuliskan puisi dan sajak-sajak indah itu dalam jiwaku. Sementara aku tak bisa membalas puisi dan sajak-sajak itu dalam jiwamu. Aku hanya bisa melukiskan tinta hitam pekat pada jiwamu, menggoreskannya, mencorakkannya, sehingga matamu berair sendu.

Tak kusangka, mimpi-mimpi kecilku yang dulu dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa, aku mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Paris. Tapi tampaknya, mimpiku menjadi bumerang, mimpiku melukai hatimu, mengharuskan kita untuk berpisah.
Langit ungu itu tampak jelas. Memikat insan manusia, apalagi yang hatinya meruncing menyanggupi luka. Awan-awan itu berwarna biru keunguan hampir menyamai langit ungu, yang kian memikat. Selalu mungkin aku hanya bisa mempertanyakan langit ungu adalah pertanda sukma yang membeku, yang telah usang bagai debu sendu.

Aku menatap matamu dalam-dalam lagi, Kamu pun membalasnya begitu, meski dengan matamu yang berair.

“Aku tahu hal ini sulit, tapi kita telah dewasa. Kita memiliki keputusan yang terbaik. Kita bukan anak kecil lagi, yang bertemu 7 tahun yang lalu. Paris adalah sebagian dari mimpiku, yang pernah kuceritakan padamu dulu. Dan kurang beberapa langkah lagi untukku mewujudkannya, tujuan utamaku berbakti untuk negeri.” Terangku padamu.

Aku tahu, 7 tahun kita telah bersama, pasti berat bagimu, bagi kita. Dan aku sangat tahu, kamu suka memendam perasaan isi hatimu, kamu suka menyembunyikan segala sakit yang kamu rasakan di hatimu dariku, kamu mengunci segala kesedihan itu rapat-rapat. Kamu selalu mencoba tegar. Aku kagum padamu.

Bagiku. Perpisahan memang menyakitkan, menusuk relung jiwa. Tapi bukankah ini hanya untuk sementara? Mungkin 3 tahun lagi aku dan kamu bisa bertemu. Tenggorokanku menyeringai terasa pahit. Berbagai pikiran berkecamuk. Aku membekapmu. Memelukmu. Aku sudah tak kuat menahan tangis. Aku juga menangis.

“Sudahlah kamu jangan menangis. Aku hanya sebentar. Aku akan cepat pulang. Maaf, aku membuatmu menunggu lebih lama, maaf aku harus ke bandara sekarang. Aku mencintaimu. Maaf aku baru bisa mengungkapkannya. Maaf aku harus pergi sekarang. Maaf. Maaf atas segalanya!” Pekikku.
Aku segera berdiri. Berjalan melangkah meninggalkanmu dengan mata berair. Aku tidak akan menoleh ke belakang ke arahmu. Aku takut melukaimu lagi.

“Mimpiku adalah aku tak ingin berpisah denganmu, meski hanya 3 tahun. Aku tak ingin berpisah denganmu. Aku juga mencintaimu!” Pekikmu dengan uraian air mata setelah aku beranjak sangat jauh. Sayapmu tampak bergetar, mencoba mengepakkannya, mencoba mengarungi angin, namun mungkinkah sepertinya kamu sudah tak sanggup?

Sayup-sayup suara adzan Maghrib terdengar. Kamu masih sendiri di taman itu. Langit ungu itu pun sudah meninggalkanmu sendiri, menjadi awan gelap yang pekat, menjadi sebuah malam beralaskan bulan dan bintang-bintang. Kamu masih terisak menangis. Tak kusangka, Langit Ungu itu menjadi saksi bisu perpisahan kita. Perpisahan sejenak kita mungkin?

***

Azinuddin Ikram
Cerpen ini terinspirasi dari dan untuk seseorang.
April 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s