Jalan-Jalanan

Jalan-jalanan di kota ini begitu sempit, dengan siluet lampu mobil yang kadang bersemburat, dengan nyanyian-nyanyian pengamen kecil, dengan gitar yang senarnya sudah tak lengkap, yang terkadang matanya berair tanda menangis kelaparan, ataupun tersiksa sehingga mata mereka memerah membuncah, entah matahari yang melukai mereka atau perlakuan orang-orang jahat, sebagai pelaku tindak kriminalitas di negeri ini.

Semua seakan mencampur, terjerumus bersamaan dengan kekacauan yang selalu terjadi pagi hari, yang lalu tergantikan malam yang terkadang sunyi, dengan rona-rona wajah pengamen kecil tadi, yang tertidur pulas, tersenyum menyemburatkan wajah bahagia mereka, dalam tidur, dalam buaian mimpi-mimpi mempesona mereka, yang terkadang membuat orang-orang lain takjub. Ada yang bermimpi memiliki negeri sendiri, dengan istana yang begitu megah, dengan lantai-lantai emas, dan sebuah singgahsana yang luarbiasa indahnya. Ya. Sekali lagi aku tegaskan, mereka sangat bahagia.

Namun apakah negeri ini sudah mengijinkan pengamen kecil itu untuk mewujudkan mimpi-mimpi bercahaya? Aku rasa, hanya jalan-jalanan yang terasa semakin sempit ini yang hanya mampu menjawab.

 

Azinuddin Ikram

September 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s