Senja Hendak Pergi

Tanganmu berusaha menjamah ke atas, berusaha menggapai senjakah? Sejujurnya hanya kau yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena aku yakin, cukup melihat bagaimana rapuhnya pelupuk matamu, bagaimana sayunya kehidupanmu. Aku sengaja tak berdesir, aku sengaja tak menyapamu, mungkin aku sengaja menjahit butir-butir rahasia sajak itu, sehingga mungkin kau takkan mengerti bahwa ada aku disini, diam sembari menatapmu.

Kali ini kau telah menjatuhkan tanganmu, tak berusaha menjamah senja lagi. Kau meletakkannya begitu saja, lalu entah sengaja atau tidak kau mengatupkan jari-jemarimu, saling mengenggam. Kau mendadak menggigil, dingin telah menusuk jari-jemarimu, hingga semakin dinginnya tempat ini, semakin erat pula genggaman tanganmu. Ah atau mungkin aku telah salah sangka? Semakin eratnya jari-jemarimu menggenggam menunjukkan bahwa semakin khusyuknya kau berdoa? Berdoa pada-Nya agar senja selalu memayungi langitmu?

Namun sepertinya kau terlambat, perlahan senja meninggalkanmu dan aku, barangkali senja hendak pergi ke suatu tempat. Ah sungguh menyakitkan, disaat doamu semakin kencang, senja benar-benar hendak pergi.

Azinuddin Ikram

November 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s