Lampu Temaram di Kotaku

Bangku-Taman-Kotabumi-Lampung-Utara

Aku tahu kamu sekarang terlihat takut-takut menghadapi kegelapan. Terlihat dari seringai matamu menatap. Matamu pun berwarna kuning dengan cahaya yang membuncah keluar kemerahan.

Hei kamu Wahai Lampu Penerang di sudut kotaku. Kenapa cahayamu sekarang tampak lebih redup? Menjadi lebih temaram. Lampu-lampu dengan bohlam berbentuk bulat serupa bola yang besar itu berwarna redup. Seperti kehilangan nyawa. Menyerupai malaikat-malaikat angin yang seringkali bergerak, bertebangan, lalu berhenti sejenak, mencabut nyawa seseorang, lalu pergi, meninggalkan nyawa yang berhenti bernafas dalam relikui hidup manusia. Aku yakin kamu pasti tahu, redup atau terangnya lampu memang menyerupai nyawa.

Aku tahu, aku mencoba tahu, kamu sudah lelah karena menerangi semua kegelapan yang terus menjadi-jadi mengusikmu. Aku tahu kamu mencoba memeranginya, melawan kegelepan yang dingin memikat itu, meruncingkan tongkat yang menyangga tubuh rampingmu untuk membela diri, meski hanya sekedar bertahan. Sayang, selalu saja upayamu sia-sia, kamu tampak kalah, menyerah tak berdaya. Ah kamu pasti tertekan.

Tapi cobalah lihat teman-teman malammu yang lain, bintang dan bulan di atas sana. Bukankah di langit sana lebih gelap? Tapi bulan dan bintang-bintang itu tetap berjuang, mereka tetap memberikan cahaya kan? Sepertinya saban malam ini kamu sering menangis sesenggukan ya? Sejahat itukah kegelapan menyergapmu? Atau telah ditinggalkannya kamu oleh hujan pada bulan Oktober? Ya, aku tahu pasti kamu merasakan sakit itu. Kamu semakin lemah, semakin redup dalam temarammu. Akupun juga begitu.

Aku sering mendengar jeritan tangismu yang mengelak. Seakan akan kamu takut sekali dengan kegelapan yang meruncing merajam. Jiwamu pasti bergejolak. Aku pernah mengajarimu bagaimana melawan kegelapan jahat-jahat itu? Saat itu untaian kataku tak henti hentinya berucapkan? Hanya saja, mungkin memang kamu salah menafsirkan perkataanku, untaian kata-kataku.

Aku tahu kamu sekarang terlihat takut-takut menghadapi kegelapan. Terlihat dari seringai matamu menatap. Matamu pun berwarna kuning dengan cahaya yang membuncah keluar kemerahan. Padahal dulu sebelum kejadian itu, kau selalu gagah, membuat semua orang takjub melihatmu, memaksa setiap orang yang melintas mengendari mobil-mobil, truk, bis, motor, bahkan sepeda bergumam mengatakan bahwa kau sangat cantik, yang indah diselimuti hakim-hakim malam. Namun, saat ini aku melihatmu bergeming berdiri tinggi dengan cahayamu yang redup. Sedih.

“Ah beban yang kamu panggul tak begitu berat, Wahai Lampu Penerang yang kini menjadi Lampu Temaram.” Ucapku bersajak kepadamu. Kau hanya bergetar-getar tertiup angin malam, tiupan malaikat yang dingin. Tak menjawab perkataanku, kamu semakin redup berada di dekatku. Aku tersenyum simpul kearahmu, meski hanya sebatas senyum palsu.

Kegelapan memang mengikuti kita yang sedang berdua, tampak anjing-anjing di jauh sana melolong-lolong hebat dengan bulan yang menaungi, menyala kuning utuh. Jalanan cukup sepi hari ini,jadi kamu tampak sendiri lagi, meski masih ada beberapa lampu-lampu kendaraan bermesin itu menyala kuning meski tak bernyawa. Berbeda sepertimu, bintang-bintang, dan bulan yang memiliki sukma itu, kalian memilikinyawa dan jiwa. Anjing itu masih melolong. Membuat beberapa kendaraan yang melewat melintasmu menjadi bergetar merinding ketakutan.

Aku mencoba bertanya padamu, “Apakah kamu masih takut? Tenanglah, masih ada aku disini.” Pedih merayap-rayap pelan sepanjang julur lidahku. Aku parau. Kamu tak bergeming menjawab pertanyaanku, meski akubanyak berharap. Aku melenguh panjang, jiwa ini sudah cukup lelah. Tampaknya sudah berbulan-bulan lebih aku berdiri didekatmu saban malam datang menggelap, di dekatmu yang semakin temaram, hanya aku dan kamu. Aku tahu kita menunggu sesuatu yang tak pasti, sesuatu yang bergejolak, sesuatu yang takkan dapat diungkapkan kata. Aku mencoba yakin pada harapku bahwa dia bersama angin akan datang menjemputku, suatu saat. Entah itu kapan.

Mungkin aku telah keliru berada disini denganmu, Sang Lampu TemaramKota. Aku disini tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa teman, hanya beralaskan kesunyian, tak sepertimu yang memiliki tujuan mulia nan agung, menerangi malam pekat dalam kegelapan. Saban malam menjemput, aku hanya berjalan kesana kemari tak tentu arah, terkadang mengelilingimu, terkadang bolak-balik kesana-kemari tak jauh dari tempatmu berdiri, tentu saja hanya untuk menanti, menunggu sesuatu yang tak pasti.

Ah kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku jadi tak punya tujuan atau harapan ini? Kenapa aku tak bisa sepertimu Wahai Lampu Temaram Kota? Apakah aku lebih buruk darimu? Lebih redup? Relung hatiku tak henti saling menyalahkan. Pasti semenjak kejadian itu. Pasti, tebakku mengingat-ingat, berusaha mengingat masa lalu. Oktober kah saat itu?
Dan apakah yang membuatmu menjadi redup juga karena kejadian itu, Wahai Lampu Penerang Kota? Kejadian itu kah? Saat aku dan orang orang tak percaya kebenaran yang hakiki? Ketika hakim-hakim kegelapan itu memudar?

Seketika dera nafasku tercekat saat itu. Sangat memikat, sempat aku melihat beberapa sosok manusia yang berlarian ke arahku, mereka datang terkejut dan berteriak teriak. Dari mereka ada yang mencoba menghubungi ambulan, polisi dan berbagai pihak yang berkepentingan, semua untuk menolongku. Menolongku yang terdiam tergelak di bangku mobilku yang terbalik. Saat itu kamu juga tercekat, berteriak ketakutan sejadi jadinya, saat itu lah kamu menjadi lemah, dan mudah terserang kegelapan malam. Aku ingat, saat itu adalah Oktober, mungkin perawalan Oktober. Karena kejadian itu kah? Ketika sirene ambulan dan lampu merah biru polisi datang?

Tiba-tiba ingatanku buyar, sesosok anak muda berdandan rapi, dengan wajah putih bersinar, dengan setelan jas berwarna hitam datang menghampiri, turun dari langit dengan sayap putih yang juga bersinar, mengepakkan, mendarat ke tanah, lalu melangkah. Menghampirimu, menghampiri kita yang sedang termenung.
Jalanan menjadi sangat sepi, tak sebuah kendaraan pun melintas. Pemuda itu menatapmu sebentar, lalu beralih menatap mataku lekat-lekat. Aku kaget bukan main. Aku terlonjak. Mungkin, hanya anak muda ini yang dapat melihatku, apalagi menatap mataku. Aku terhuyung-huyung mundur ke belakang.

“Sepertinya kau sedang menunggu ya? Kau menunggu apa?” Tanyanya memulai percakapan padaku.

“Bukan urusanmu.” Jawabku sesak.

“Tentu urusanku. Sejak Oktober lalu, aku selalu melihatmu disini setiap malam. Kau berjalan mondar-mandir kesana-kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas.”

“Aku tahu aku diawasi”

“Kau tak punya rasa kasihan?”

“Punya. Namun aku tak bisa menunjukkan padamu.”

“Jujur saja, kasihan Sang Lampu Penerang Kota menjadi redup, hingga orang-orang disini memanggilnya Sang Lampu Temaram Kota. Dia ketakutan padamu.”

“Bohong. Aku menemaninya sehingga ia tak kesepian”

“Kau benar-benar tak berhati ya?”

“Apa urusanmu? Aku disini hanya mencoba menemani lampu ini. Kau tak berhak apapun tentangku.” Jawabku membela mengelak.

“Lampu ini ketakutan pada kegelapanmu! Kau mengusiknya. Pergilah bersamaku! Aku yang kau tunggu selama ini.”

“Aku tak mengenalmu! Lampu Temarampun juga tak mengenalmu! Pergilah tinggalkan kami!”.

“Coba kita tanya langsung pada Lampu Temaram Kota ini?

“Ya silahkan.”

Pemuda itu tampak bertanya pada Lampu Temaram Kota, mereka bercakap-cakap sejenak, aku tak begitu mendengar untaian kata mereka, karena perdu angin-angin malam semakin bertiup kecang. Dengan lolongan anjing-anjing dari jauh sana. Pemuda itu bergetar. Tapi matanya tajam, sangat tajam. Menusuk dalam, lalu menoleh kembali kearahku.

“Lihat, Lampu ini menjawab takut padamu! Iya kan Wahai Lampu Penerang Kota? Kau tampak sangat menakutkan. Aku tahu kamu bukan manusia lagi.”

Hening, aku tak mampu menjawab lagi, tentu Lampu Temaram telah jujur akan dirinya. Ya aku memang sengaja disini, bersama Lampu Penerang Kota yang semakin lama, semakin meredup karena keberadaanku. Aku menunggu seseorang, sesuatu yang tak pasti. Dan aku memang bukanlah manusia lagi. Aku telah lama mati Oktober lalu.

“Baiklah, kau benar. Sebenarnya siapa kau anak muda? Kenapa kau tak takut padaku? Kenapa juga kau mengerti banyak tentangku?” Tanyaku padanya.

“Aku adalah pengantarmu. Pergilah bersamaku.” Jawabnya seraya gerakan telapak tangannya mencekram pundakku,.
Aku berusaha menghindar dari cengkramannya ke belakang. Aku segera mengepalkan tangan kananku, melayangkannya pada permukaan wajah pemuda itu yang putih bersinar. Plak! Tonjokkan tangan kananku tepat mengenai pipi kirinya. Dia terjatuh terhuyung-huyung.

“Aku tak ingin ikut denganmu! Pergilah sendiri! Jangan pernah menyentuhku!” Teriakku padanya. Aku tak henti-hentinya mengancam.“Menjauh dariku!”

Pemuda itu segera berdiri lagi. Lalu tersenyum padaku. Senyum menyesakkan.

“Hei. Pernahkah kau berkaca sekarang? Kau sudah bukan manusia lagi, kau sudah tak secantik dulu lagi. Lihatlah dirimu! Dengan rambut hitam keringmu yang panjang teruntai, dengan jubah putih, wajah pucat dan mata merah seperti itu, miris. Kau hanya memberikan malapetaka dalam dunia ini, Kau hanya menimbulkan tangis bagi para jiwa, Kau menakut-nakuti dengan sosok gaibmu, termasuk untuk Lampu Penerang Kota. Sungguh miris aku melihatmu. Satu-satunya cara kau menebus dosamu adalah dengan pergi denganku!”

“Kau pemuda kurang ajar!” Pekikku menjelma menjadi monster sambil menunjuk-nunjukkan jari telunjukku kearahnya.

“Akulah sosok yang selama ini kau tunggu.” Pemuda itu membentangkan telapak tangannya, lalu menutupi wajahku. Aku tak bisa bergerak. Dia mencengkram pundakku. Diam sejenak.

Badanku terasa melayang perlahan, semakin melangkah terbang ke atas, dan aku merasa pergi bersamanya. Meninggalkanmu sendiri Wahai Lampu Temaram Kota. Aku menangis dalam terbang, ah entah mengapa aku juga melihatmu menangis, melirik ke bawah kearahmu, tertangkup pada satu titik bolam lampu kekuning-kuningan. Aku mulai merangkak, melayang dalam lembayung, kearah langit, menuju bintang-bintang dan bulan di atas sana, yang sedang berkelap-kelip.
Aku tak menyangka, sebegitukah berartinya kamu Wahai Lampu Temaram Kota dalam hidupku? Kau saksi dari segala hidupku. Bahkan sampai aku benar-benar pergi meninggalkanmu, saat aku terbang menjulang ke langit.

Pemuda itu berucap lagi. “Sudahlah. Tak ada yang perlu ditangisi lagi. Kamu telah gagal memerangi kebenaran selama hidupmu, mengalahkan kegelapan-kegelapan itu dalam hidupmu.” Aku masih menangis.

Oya. Aku ingat beberapa hal dulu semasa hidupku, bahwa aku adalah pemimpin dalam suatu kota ini, yang seharusnya mengayomi rakyat, mencintai rakyat, dan mendedikasikan seluruh hidupku untuk rakyat. Namun sayang, aku gagal, aku gagal memerangi kejahatan yang dilakukan orang-orang busuk, aku gagal melindungi rakyatku tercinta dari kejaran kegelapan, aku gagal melindungi semuanya, termasuk melindungi kebenaran. Lalu aku menyerah dengan menjebloskan diriku pada harta yang berlimpah ruah. Aku lupa menjadi apa, aku ngeri melihat diriku sendiri,a ku yang takut akan kebenaran.

Karena terdesak, aku mencoba melarikan diri sejauh-sejauhnya dari kenyataan. Suatu malam saat kejadian itu terjadi, pada bulan Oktober aku mencoba melarikan diri dari Kota ini, dari Lampu Penerang Kotaku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, lalu aku merasakan guncangan dalam mobilku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu, aku tak begitu ingat, yang jelas aku dan mobilku terpental jauh, jatuh, rusak, terbalik. Lalu rakyatku berdatangan. Dari mereka banyak yang terhenyak kaget seperti tak percaya melihat apa yang terjadi. Dari mereka ada yang prihatin, sontak seluruhnya panik, lari kesana kemari mencari bantuan, namun memang ada beberapa yang malah menghujatku, menusukkan kata-kata pedas serupa jarum dalam kematianku. Aku mati tepat dihadapanmu, Wahai Lampu Penerang Kotaku.

Semenjak kejadian itu, lampumu menjadi redup. Namamu pun berubah menjadi Lampu Temaram Kota. Kehilangan. Begitu juga aku, menunggu disampingmu, sampai sang malaikat muda putih ini mengajakku pergi terbang entah kemana, menanyai-nanyai tentang tanggung jawabku, tentang relikui hidupku, tentang kegelapan dan dosa-dosaku. Samar-samar, aku merasa masih mendengar tangismu sendiri, menyatu dengan lolongan anjing-anjing tua yang aku pun tak tahu berasal darimana mereka.

Semakin menjulang, aku merasa mendidih, sepertinya malaikat angin yang menyerupai pemuda ini segera membawaku ke neraka yang panas. Ya, aku pantas mendapatkan ini.Ah benar. Semakin panas saja hawanya.

Wahai Lampu Temaram Kotaku, Maafkan aku, aku harap kamu tak menangis lagi, dan tak menjadi temaram gelap sepertiku.

***

Azinuddin Ikram
Allah Maha Melihat, pesan untuk koruptor negeri ini.
Februari 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s