Samudra yang Merindukan Langit

Aku dan harapan kalbu masih berusaha menari, meliuk-liuk bak ekor samudra yang mengibarkan ombak dan gelombang. Aku menyampaikan salamku lewat desiran pasir yang berada pada tepi pantai, yang tentu juga diharapakan oleh harapan kalbu bahwa salam itu akan benar-benar tersampaikan. Meski dengan batu karang yang menahan bagai rintangan, meski dengan sejuta perjuangan yang tertiupkan angin, meski dengan sejuta doa yang terucap oleh bibir mungil seorang putri.

Aku dan samudra benar-benar tak tahu menahu apa yang sebenarnya diharapkan oleh langit dan salam-salam yang kubuat. Jujur aku tak pernah benar-benar tahu meski aku lah sang pekerja di balik layar itu, aku lah penulis untaian kata berisi salam-salam yang takkan dapat dimengerti siapapun itu. Salam berupa harapan yang sepenuhnya untuk seorang putri, yang sebenarnya aku tak pantas untuk menyampaikan salam itu. Menulis untuknya saja aku tak pantas. Namun, aku tak pernah benar-benar dilarang untuk berharap, maka aku melakukan segalanya agar salam itu tersampaikan. Hanya itu harapan kalbuku.

Saat memandang deburan samudra seperti ini, aku ingin berteriak, mencurahkan segala makna yang selama ini tertahankan. Begitu juga dengan samudra, yang aku rasa dia pasti juga ingin melakukan hal yang sama sepertiku. Aku tahu, samudra juga ingin menyampaikan salamnya pada langit. Sedihnya, samudra memiliki nasib yang lebih malang dariku, samudra dan langit memang selalu saling memandangi, namun mereka tak bisa berucap, tak bisa bercerita banyak hal, apalagi saling menggenggam. Yang bisa samudra lakukan hanyalah menyampaikan salam, dan tentu juga berharap. Aku merasa iba pada takdir yang ditetapkan pada sebuah samudra, sebesar dan seluas apapun samudra mencintai langit, hal itu takkan berbalas sedikitpun dari langit. Samudra hanya bisa menyampaikan salam-salam yang dia sendiri tak ketahui isi pesannya, sebab hampa telah merenggut riak, ombak dan gelombang yang terdengar pada samudra sebagai sebuah salam.

Aku menggenggam pasir-pasir laut ini. Masih berharap desir pasir ini dapat menyampaikan salamku pada putri itu. Aku merenung disayupi takdir dan ketetapan tuhan.

Dalam riak gelombang itu, aku bertanya; Pantaskah aku merindukan bahkan mencintai putri itu? Rasa ragu itu menyeruak dalam benak kalbu, aku menghempaskan pasir-pasir itu. Aku sadar, kecewa pada diriku sendiri. Apalah aku ini, aku hanyalah samudra yang merindukan langit.

Azinuddin Ikram.

Iklan

2 pemikiran pada “Samudra yang Merindukan Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s