Kisah Romantis Antara Awan dan Langit

Awan terlihat manja-manja berjalan. Sikapnya mencerminkan bahwa dia sedang tidak bahagia, namun juga tak sedang bersedih. Dia memang kerap acuh tak acuh seperti itu. Berjalan begitu saja di wilayah kekuasaannya: langit.


Awan yang menjadi tanah bagi langit atau langit yang menjadi tanah bagi awan? Burung-burung yang bertebangan dan mengitari angkasa saja tidak begitu tahu, apalagi aku yang hanya bisa berbaring memandang mereka, entah saling berjalan atau berkejaran.

Barangkali aku cemburu dengan mereka, mereka begitu romantis. Selalu bersama. Jika aku membunuh salah satunnya akankah yang lain juga ikut mati karena bunuh diri? Seperti kisah Romeo Juliet kah? Baiklah, aku akan mencoba membunuh langit, aku telah menyiapkan sebuah pisau untuk membelahnya. Aku ingin melihat apakah awan tetap bersikap acuh seperti itu atau tidak. Atau mungkin yang lebih aku inginkan adalah awan juga ikut mati dengan bunuh diri.

Tapi saat langit telah kubelah dan tentu saja mati. Awan masih saja bersikap acuh, tak tahu menahu soal itu. Ah kisah mereka tak romantis. Aku kecewa berat dengan mereka.

Azinuddin Ikram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s