Pengagum Pagi

Pagi ini bukanlah pagi-pagi seperti kebanyakan pagi biasanya. Meski burung-burung kecil juga tak pernah luput dari pandangan saya, tapi kali ini sedikit teralihkan. Jari-jemari dengan kuku terawat, lengan kecil berwarna putih hingga sikunya, berpakaian kaos biru tua –sebiru laut- dengan tubuh rampingnya. Wajahnya yang secerah harapan, wajahnya yang bersinar layaknya pagi ini.

Biasanya setiap pagi jika tak salah, setiap burung-burung kecil akan bernyanyian merdu pada pohon akasia sepanjang jalan ke rumahnya. Saling bernyanyian. Namun pagi hari ini tidak, mereka tidak bernyanyi. Tentu saja sebab wanita itu berjalan dengan penuh anggun dan kecantikannya, sehingga segala sesuatu pun terasa terhenti, menoleh kepada wanita itu, termasuk burung-burung itu. Mereka berhenti bernyanyi hanya demi menoleh wanita itu. Burung-burung itu, saya, juga dunia teralihkan oleh kecantikan parasnya.

Pagi ini wanita itu berjalan-jalan mengitari jalanan ini, dari rumah ke rumah. Menebar senyum manisnya yang begitu melenakan, menyapa segala sesutu yang ditemuinya. Termasuk burung-burung kecil itu, beramah-tamah dengan dunia, memberikan senyum termanisnnya pada saya. Atau barangkali saya yang terlalu berharap? Entah, hanya saja semenjak pagi itu, setiap wanita itu ada. Burung-burung kecil dan saya menjadi pengagum pagi. Diam-diam dunia juga jadi pengagum pagi, namun dia malu untuk mengakuinya.

Azinuddin Ikram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s