Sebuah Topi

Sebuah topi. Sebuah makna. Sebuah kisah. Sebuah saksi. Sebuah kenangan.

Topi selalu saja memiliki makna didalamnya, seperti memiliki tujuan pada bagian kulit-kulit terluarnya. Ya, beberapa orang menggunakan topi dengan tujuan untuk melindungi kulit kepala mereka dari panas matahari yang seringkali menyerang tanpa diminta. Namun kau pun pasti tahu bahwa dunia ini benar-benar begitu luas, sebagian kecil orang menggunakan topi untuk keperluan lain, ada yang untuk fashion semata saja, ada yang menggunakan agar tidak dihukum saat upacara bendera, ada yang menggunakannya hanya untuk menyimpan suatu kenangan.

Topi selalu memiliki makna. Aku yakin itu. Topi juga selalu mengisyaratkan makna dengan berbagai cara yang kadang tak disadari manusia. Seperti warna mereka yang berwarna warni, yang tentu ada sebuah maksud dari warna itu. Seperti bentuk mereka yang berbeda-beda meski tetap dalam satu keluarga bernama; topi. Seperti sebuah harapan yang ditegaskan sang pemakai kepada orang yang memandangnya. Entah tujuan apapun itu, topi selalu memiliki makna.

Topi selalu memiliki sebuah kisah. Kisah baik atau buruk, topi akan selalu mengerti kapan dia harus tersenyum menghibur atau tersenyum bahagia. Terlalu banyak kisah yang diceritakan topi. Ah banyak sekali.

Sebuah kisah. Petani yang berjuang menggarap sawahnya pada siang hari menggunakan topi. Seorang anak SD dihukum gurunya karena ketahuan tidak membawa topi saat upacara bendera. Seorang ayah yang mengajak keluarganya liburan juga menggunakan topi. Seorang model pria yang badannya tegap menggunakan topi sebagai ajang pertunjukkan fashion terbarunya. Seorang seniman menggunakan topi sebagai sumber inspirasinya. Seorang pemuda dihadiahi kekasihnya sebuah topi putih saat mereka hendak berpisah. Semua topi mengandung kisah.

Topi selalu dan akan terus menjadi sebuah saksi. Tentu saksi yang diam membisu, sebab mereka takkan dapat berkata, meski sekedar menyampaikan syair-syair isyarat. Saksi pada setiap kejadian yang terjadi dan yang telah terjadi. Topi adalah pelindung dan pendengar yang baik, mereka tahu, namun senantiasa diam.

Petani itu masih berjuang dengan sisa-sisa semangatnya untuk terus mencangkul, tentu ditemani panas matahari yang menyengat bagai luka angkara. Petani itu sesekali mengeluh. Ya Topi itu tahu, dia saksi kejadian yang terjadi siang itu, dia pelindung yang baik, tentu juga pendengar yang baik. Topi itu membiarkan dirinya terhujam panas demi melindungi petani itu, sungguh baik. Lagipula dia juga tak mengeluh.

Bocah kelas 5 SD itu masih terpaku, entah mendengarkan atau tidak omelan gurunya yang sudah sedari tadi memarahinya. Setelah pulang sekolah bocah itu mendapati topi merahnya tergelatak di kasurnya, bocah itu segera menggapainya, lalu menyimpan baik-baik dalam tasnya. Topi tahu, saat itu juga bocah itu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan lupa membawa topi. Semenjak itu, topi selalu menyelamatkan bocah SD pada setiap senin pagi. Topi menjadi saksi penyelamat.

Seorang ayah dengan istrinya mengajak putra tunggal mereka pergi ke pantai. Ayah itu memakai topi. Saat bermain air dan ombak pada pantai itu, putra tunggalnya mendadak menggigil, mungkin kepanasan oleh terik matahari. Sang ayah segera mendekap lembut putra tunggalnya lalu melapas topinya dan menggunakannya pada putra dengan berbisik, “Ini untukmu. Gunakan dengan baik.” Putranya tersenyum, entah mendapatkan keajaiban darimana, putra itu sehat kembali, tentu juga ceria kembali. Bermain riang dengan topi ayahnya. Topi menjadi saksi setiap kejadian di keluarga itu. Dan topi memiliki sebuah arti kasih sayang yang teramat besar pada keluarga kecil bahagia itu.

Seorang model pria yang mengenakan topi dan seorang seniman pun juga melakukan hal yang sama. Topi menjadi saksi dari kegiatan kehidupan mereka. Model pria itu menjadi juara pada ajangnya sebab menggunakan topi, begitu juga seniman itu, dia melukis dengan sangat hebat saat menggunakan topinya. Topi tetap diam meski dia telah menolong banyak orang untuk mendapatkan pengakuan di dunia ini.
Topi akan selalu menjadi saksi. Dalam setiap kisah, dalam setiap makna.

Seorang pemuda dan kekasihnya saling berhadapan. Pada sebuah telaga, saat senja. Gadis itu menyodorkan sebuah topi kepada pemudanya seraya berkata, “Simpanlah baik-baik. Aku hanya bisa memberikan ini. Aku harus pergi.”

Pemuda itu tidak berucap, pemuda itu menangkupkan tangannya, mencoba menerima topi itu. Gadis itu segera membelakangi dan berlari menjauh, terus menjauh. Pemuda itu belum semapt mengucapkan terimakasih, hanya tangis yang terdengar setelah itu. Pemuda itu memeluk erat topi pemberian kekasihnya. Topi tetap bisu. Topi berusaha tersenyum menghibur, namun dia tidak berdaya. Mungkin saat itu topi ikut menangis. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan, apalagi topi yang menjadi saksi bisu sebuah perpisahan. Semenjak hari itu pemuda itu selalu menggunakan topi pemberian kekasihnya. Dan setiap senja menunggu di telaga itu selalu dengan topi kenangannya, dengan doa yang selalu dipanjatkan, menunggu kekasihnya kembali.

Sebuah topi menyimpan kenangan.

Sebuah Topi menyimpan sepatah kata; janji.

Azinuddin Ikram
Pacitan, 26 Desember 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s