Sebuah Kata yang Hilang

Pada suatu malam yang ramai, kerumunan orang terlihat menyibukkan diri bertumpah ruah pada pusat kota, yang dipenuhi panggung-panggung, dengan orang menyanyi di atasnya. Ranting-ranting pohon malam pun ikut bergerak dalam semesta yang luas, dengan manusia-manusia yang semakin picik, menari dengan beratapkan langit malam dan rembulan. Suara nada-nada yang terpaksakan berirama, dengan nyanyian-nyanyian kertas yang lepas termakan senandung angin malam, mengiringi malam mereka.

Manusia-manusia itu juga saling berbelanja, berdagang barang-barang yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, dan manusia yang lainnya pada malam itu kebingungan, apa yang harusnya mereka beli.

Diantara keramaian itu, aku duduk dalam salah satu kursi-kursi berukiran jawa, mengamati manusia-manusia itu. Ah!
Aku merasa kurang, entah apa yang kucari, aku tak memiliki tujuan apapun, namun sekali lagi kutegaskan! Aku merasa ada sesuatu yang hilang!

Perlahan semesta mengibakan dirinya padaku, dipeluk erat-eratnya diriku, dan entah, tampaknya mereka akan membisikkan sesuatu padaku.

Ada sebuah kata yang hilang, yang seolah-olah terseret pada bagian kulit tubuh yang tergores luka, semesta pun seakan memaklumi arti kekosongan itu, kata yang menusuk sanubarimu, kata yang mengandung percikan-percikan api pada malam hari, kata yang menjadikan manusia demi mempertahankan diri dalam ranting-ranting pada pusat kota. Hei kamu, malam semakin menghanyutkan, bisa beritahu aku? Sebuah kata yang hilang itu?

Azinuddin Ikram.

Iklan

3 pemikiran pada “Sebuah Kata yang Hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s