Lima Kisah; Nothings Gonna Change My Love For You (Bagian 1)

Di Rumah Makan
Aku menggenggam sebuah sendok pada jari-jemari tangan kananku. Sendok biasa. Sendok yang sama sekali tidak spesial. Hanya saja sendok itu tampak kedinginan dan gugup. Entah karena apa aku juga tak tahu, sendok itu masih saja menggigil. Aku menggenggamnya semakin erat, berharap semoga sendok ini lebih merasa hangat.

Alunan musik terdengar dari sudut rumah makan ini. Aku rasa, pemain musik jazz disini seringkali memainkan musik dan lagu-lagu romantis. Entah disengaja atau tidak, namun setiap kali aku mengunjungi tempat ini mereka selalu saja memainkan alunan musik romantis. Mungkin juga kebetulan saja saat aku mampir kesini mereka sedang memainkan musik romantis itu. Mungkin saja. Atau mungkin juga mereka memang penyuka dan pengagum musik beraliran romantis. Mungkin juga sang manager rumah makan menyuruh mereka selalu memainkan musik romantis. Ah aku memang tak tahu alasan mengapa selalu musik romantis, aku terlalu banyak mengira. Parahnya, aku tak pernah berani bertanya pada pemain-pemain music jazz itu, aku takut menyinggung. Kadang aku juga beranggapan mereka membenciku. Ah terlalu banyak hal yang telah membebani pikiranku. Aku memang pemikir berat.

Senandung dari lirik-lirik lagu itu benar-benar memikat, hadir padaku, menyelami kehampaanku dan kerinduanku akan seseorang. Menyenandungkan kenangan yang telah pecah, senandung bagai doa yang akan selalu alat-alat musik itu panjatkan.

Sepiring nasi goreng telah terhidangkan di meja makan ini, lengkap dengan tomat, kerupuk, dan telur dadar. Secangkir teh juga telah disiapkan dengan sangat baik oleh sang pelayan. Lengkap sudah. Lengkap segala cerita yang akan tersampaikan rasa.

***

Dengan Isyarat Samudra
Aku menyebutnya pria samudra. Dengan segala ketenangannya, pria itu benar-benar memikat. Lihat saja bagaimana cara dia berbicara. Amat tenang. Amat wibawa.

Dia pria paling romantis yang pernah kutemui. Pria yang lebih banyak diam di dalam kelas. Pria yang amat santun dalam berbicara. Pria yang lebih suka menyendiri daripada bermain game dengan teman-teman sebayanya. Pria yang suka menulis dan membaca sebuah novel. Pria yang bisa bermain gitar namun tak pernah mau menunjukkan bahwa dia bisa bermain gitar.
Mengagumi dengan rasa diam memang seperti penyelinap. Ya mereka melakukan pekerjaannya dengan sembunyi. Tanpa ada rasa sedikitpun untuk diketahui.

Hingga saat ini aku tak mengerti bagaimana membedakan rasa kagum dan cinta. Mungkin karena mengagumi pria itu dengan amat sangat hingga menyamarkan rasa kagum itu sendiri dengan tergantikan oleh cinta. Aku bagai penyelinap dalam mencuri bagian dari setiap bagian hidupnya.
Pria itu teman sekelasku. Pria yang selalu duduk di bangku paling depan. Pria yang akan selalu aktif bertanya dan juara dalam berdiskusi di kelas. Pria yang selalu mengumpulkan tugas paling awal. Pria yang selalu jujur dalam ulangan. Ya. Aku tahu semua tentangnya, semuanya tentang dirinya aku perhatikan. Aku duduk di belakang, agak jauh darinya. Cukup leluasa untuk memperhatikan tingkah pria samudra itu. Itulah alasan mengapa aku tahu setiap hal tentangnya.

Seseorang teman pernah bertanya padanya bisakah dia bermain gitar. Namun pria itu menggeleng, menjawab tidak bisa bermain gitar. Ya aku kira dia memang tak bisa bermain gitar. Namun aku salah. Dia bisa bermain gitar. Aku melihatnya sendiri saat ia memainkan gitar milik teman kelas sebelah, saat itu sudah bel pulang sekolah, dan suasana sekolah sudah sangat sepi. Aku kembali ke sekolah karena ada buku yang tertinggal di laci, saat berjalan hendak menuju kelasku, aku mendengar suara gitar yang sangat merdu dan romantis dari kelas sebelah. Aku membuka pintu dan betapa terkejutnya aku bahwa pria samudra itu yang bermain gitar. Lagu yang amat romantis. Dia kikuk setelah melihatku.

Entah kenapa semenjak itu aku begitu mengaguminya, dan tentu mengagumi lagu romantis yang dimainkannya.

***

Cinta Wanita Matahari
Cinta tidak butuh alasan untuk berbicara. Begitu yang sering diucapkan Ibu padaku. Jadi cinta seperti tampak namun tak tampak, menerpa sepasang hati manusia, menghangatkan dan menyinari lubuk kalbu yang paling gelap.

Jadi juga layak seperti matahari? Sama-sama memiliki sinar dan memancarkannya? Entah mungkin iya juga mungkin tidak. Aku ingin bertanya pada matahari saja, siapa tahu dia mau menjawab. Lagipula aku yakin matahari akan menjawab dengan benar, sebab dia yang paling tahu.

Sayangnya tak semudah itu berbicara dengan matahari. Benar memang bahwa matahari begitu memikat dan berkharisma, namun karena itulah aku merasa ia begitu sombong terhadap dunia. Meski begitu impianku takkan berubah, aku akan tetap ingin bertanya padanya segala tentang cinta, segala tentang kisah, segala tentang harapan dan sinar. Aku berjanji, impianku takkan berubah.

Matahari. Kian hari aku semakin membuntuti matahari, kemanapun ia pergi. Aku semakin menggila pada matahari. Saat ketidakpastian tentang rasa cinta yang kurasakan semakin kuat, matahari semakin sombong. Tiap kali aku menanyainya, dia selalu bersikap tak acuh. Padahal aku begitu perhatian dengannya.

Aku rasa sikap yang ditujukan matahari padaku hampir sama dengan wanita itu, seorang wanita yang selalu hadir dalam angan dan mimpiku. Wanita itu bernama wanita matahari. Wanita yang mungkin begitu tulus mencintaiku.

***

Bahasa Kalbu
Hanya dengan isyarat doa, ya hanya dengan itu rasa rinduku seakan berkurang, namun juga bertambah amat kuat. Setiap selesai sholat dan doa kupanjatkan, tak terhitung begitu banyak doa yang kupanjatkan hanya untuknya, untuk kesehatan dan keselamatannya. Sudah 5 tahun berselang kita tak pernah bertemu, dan telah selama waktu itu pula, aku amat merindukannya. Dan tentu aku memang tak bisa melakukan apapun selain berdoa, berdoa menggunakan hati yang terdalam, hingga doa-doa itu menjelma menjadi sebuah bahasa kalbu, yang diizinkan tuhan untuk menjelma menjadi sosok paling setia dalam hidupku.

Tak mengapa sudah 5 tahun kita tidak bertemu, aku masih kuat dan akan selalu kuat jika mendengarkan sebuah lagu, lagu kenangan kita berdua. Lagu yang tersimpan pada kaset yang sudah sangat usang. Lagu peneman dimana pertama kali kita bertemu, lagu dimana menjadi saksi percintaan kita, lagu yang dimanapun amat begitu kita dengang-dengungkan, lagu segalanya dan dalam liriknya akan selalu kita kagumi. Sebuah lagu. Hanya sebuah lagu.

Lagu yang penuh makna akan kenangan. Lagipula sebelum dia pergi aku juga telah berjanji padanya untuk akan selalu memutar lagu itu setiap malam setelah membaca doa-doa yang kupanjatkan. Setiap malam, tak pernah berhenti aku mendengarkan lagu itu, dan beruntungnya aku kaset itu tak pernah rusak. Dan aku yakin takkan pernah rusak selama dia masih hidup. Semoga saja.

Doa dan lagu itu lah yang menggantikan sosoknya. Dalam rindu aku menunggunya pulang, dengan terselimuti jutaan bahasa kalbu.

***

Lelaki yang Mencintai Hujan
Aku takkan pernah bisa mengungkapkan kata, sepatah kata, bahasa rahasia untuk menyampaikan sebuah pesan bahwa aku benar-benar mencintainya. Bahwa bagaimanapun sesuatu yang terjadi padaku, aku akan tetap mencintainya. Aku tidak mungkin bisa mengungkapkan itu semua pada lelaki itu. Aku juga yakin jika pun aku mengatakan itu padanya, ia takkan mau memilikiku, sebab ia lebih dan terlanjur mencintai hujan.
Terlihat melankolis memang, sosok lelaki mencintai hujan. Namun justru karena hal itu lelaki itu begitu unik di mataku, aku memutuskan untuk mencintainya. Memutuskan menerima ia segalanya, kelebihan maupun kekurangannya.

Aku masih ingat betul saat itu, sore hari di kampus hujan lebat terjadi. Dengan situasi yang tidak mendukung, penderitaanku bertambah dengan tidak membawanya mantol, dan mogoknya kendaraan motorku. Sungguh naas. Hingga lelaki itu tiba, lelaki kampus sebelah. Dia memandangku yang berteduh di sudut kampus, lalu menghampiriku, memarkirkan motornya, melepas mantolnya, dan bertanya padaku sejenak, lalu memperbaiki motorku. Entah apa yang dilakukannya, mesin motorku hidup kembali.

Sungguh ajaib. Dia juga meminjami mantolnya padaku, dan mengatakan padaku bahwa jika sudah agak reda pulang saja. Sebelum dia pergi, ponselnya berdering, sebuah lagu yang amat bagus, dan begitu romantis. Dia mengangkatnya sebentar, dan berbincang singkat dengan lawan bicaranya di seberang.

Lalu setelah selesai, dia menutup lagi dan menaruh ponselnya di sakunya. Saat kutanya balik bagaimana dengannya jika terkena hujan, dia menjawab bahwa dia lelaki yang mencintai hujan lalu pergi hanyut dalam lamunan hujan. Sesaat setelah itu, aku pun hanya memandanginya, hingga sosoknya benar-benar hilang.

Azinuddin Ikram.

Catatan:
Pertama kali mendengar lagu ini saat kami sekeluarga makan pada sebuah restoran. Bagus sekali, batinku. Aku putuskan untuk bertanya pada ayah apa judulnya. Dan ia menjawab; Nothings Gonna Change My Love For You.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s