Lima Kisah; Nothings Gonna Change My Love For You (Bagian 2)

Lelaki yang Mencintai Hujan
Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa lelaki itu memang serius dan aneh. Namun tentu hal itu bukan tanpa alasan, dia menjadi pecinta sekaligus pembenci hujan. Sebab ibunya telah meninggal karena hujan. Beberapa tahun yang lalu, motor yang dikendarai ibunya terpeleset saat hujan lebat di kota asalnya. Mendengar berita itu dari teman, perasaanku benar-benar luluh, dan berbagai pikiran menyergapku. Aku masih tidak mengerti bagaimana dia bisa menjawab bahwa dia adalah lelaki yang mencintai hujan. Lelaki itu benar-benar misterius. Aku memutuskan untuk menemuinya dan bertanya apa maksudnya lelaki yang mencintai hujan.

Saat kutemui dia biasa saja, katanya dia lebih suka menyampaikan segala sesuatu tersirat. Dia mengambil ponselnya lalu memainkan sebuah lagu di playlist musiknya, lagu yang sama dengan nada deringnya. Dia mengatakan lagu itu yang mengingatkan dirinya tentang ibunya, maka dari itu jika hujan tiba, dia merasa ibunya kembali hadir menemaninya. Dan dia menyebut dirinya sebagai lelaki pencinta hujan.

Semenjak itu aku begitu mencintai lelaki itu, entah dengan alasan apa, tapi lelaki itu begitu tulus mencintai ibunya, dan begitu tulus menolongku. Dan lagu yang ia dengarkan padaku saat itu telah menjadi langganan playlist harianku. Lagu yang amat romantis. Ya aku mencintainya dan memutuskan mengungkapkan perasaanku itu padanya dengan tersirat. Aku menulis lirik lagu itu pada secarik kertas dan mengirimkan padanya. Entah surat itu akan tersampaikan atau tidak, entah dibaca atau tidak, entah dibalas tidak, yang terpenting adalah aku ingin mengungkapkan rasaku padanya.
Sayangnya, dia tak pernah membalas secarik kertas suratku, entah dibacanya lalu dia sengaja tidak membalas, entah mungkin surat itu belum tersampaikan padanya, atau mungkin karena ia terlalu mencintai hujan. Dan telah berjanji untuk setia pada hujan.

***

Di Rumah Makan
Aku baru saja ingat, aku melupakan suatu hal. Pantas saja daritadi aku merasa ada yang kurang. Aku melupakan garpu. Mungkin disengaja atau tidak, sang pelayan mungkin juga lupa memberikan garpu pada sepiring nasi goreng yang dihidangkan padaku. Tentu belum lengkap tanpa garpu, imbuhku dalam hati. Aku segera bergegas meminta garpu pada sang pelayan.

Mereka meminta maaf, lalu membawakan garpu dengan cepat. Untung saja mereka cepat, ya pelayanan mereka kali ini aku maafkan. Mungkin mereka sedang lelah atau terlalu sibuknya mereka.

Ya aku segera menyandingkan garpu di tangan kiriku, ah garpu juga gugup. Dingin di sekujur tubuhnya. Aku menggenngam garpu di tangan kiri, sendok di tangan kanan dengan lebih erat. Lebih erat lagi. Lengkap sekali batinku.
Lagu yang sama kembali diulangi oleh pemain akustik jazz. Aneh benar orang-orang itu. Menjadikan suasana disini terlihat usang saja. Aku segera melahap sepiring nasi goreng tadi, ah enak sekali. Kali ini terasa lengkap dengan sendok dan garpu.

Sendok dan garpu. Sebuah pasangan yang berbeda namun tentu mereka saling melengkapi. Dengan adanya mereka berdua, makan pun jadi sangat terasa lengkap. Mungkin begitulah cinta, harus saling melengkapi di tengah kekurangan masing-masing. Rukun. Saling bahu-membahu. Dan tentu cinta mereka pasti langgeng dan abadi.

Ah aku jadi merasa gagal, Hidupku belum lengkap seperti sendok dan garpu ini, ditambah lagi musik lagu yang dimainkan, membuat perasaanku campur aduk dalam kenangan yang semu. Aku memandangi vokalis musik akustik itu, sungguh cantik bagai bidadari dari surga. Barangkali mungkin memang aku mencintainya, hingga hampir saban hari aku pasti pergi ke rumah makan ini. Dialah alasan mengapa hidupku begitu lengkap. Mungkin justru lagu itu yang telah membuatku jatuh cinta padanya. Hanya dia. Dia yang selalu menyanyikan lagu itu, dan kadang aku berimajinasi bahwa lagu yang dia nyanyikan itu memang sengaja dinyanyikan hanya untukku. Sebab hanya saat ada aku saja dia akan menyanyikan lagu itu. Segalanya telah lengkap, sendok, garpu, nasi goreng, lagu, dan tentu wanita penyanyi itu. Lengkap di rumah makan ini.

***

Cinta Wanita Matahari
Bagiku wanita itu adalah matahari. Segalanya bagiku. Aku begitu ingin menggapainya, namun kadang ia memang bersikap sombong padaku. Mirip sekali dengan matahari, lagipula dia juga memiliki sinar yang amat cerah. Dengan alasan itu lah aku ingin begitu dekat dengannya, ingin bertanya tentang cinta, kisah, harapan dan tentu saja sinar. Karena wanita itu aku ingin berubah, aku ingin berjuang menjadi yang lebih baik. Sikapku yang mudah marah perlahan mulai mereda, begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seringkali kulakukan.

Wanita itulah alasannya. Memang dulu aku begitu tergila-gila padanya. Wanita itu primadona di kantor. Aku menjulukinya wanita matahari. Karena kebetulan rumah kami searah, maka hampir saban hari aku menjemputnya dan mengantarkannya pulang. Di dalam mobil kami menceritakan banyak hal, kadang juga berdebat dan bertengkar tentang masalah yang pelik di kantor. Hingga aku menyadari bahwa dialah wanita yang sombong namun begitu tulus dalam berbuat kebaikan. Dia merubahku menjadi lebih baik.

Suatu saat saat pertengkaran kami berlangsung dengan semakin tegang di dalam mobil. Kami saling mendiamkan diri cukup lama, hanya suara radio yang berputar pelan. Isi siaran radio suara wanita yang menyampaikan berita, lalu beralih menjadi sebuah lagu. Lagu pelan yang amat bagus dan romantis. Aku ikut menyimak lagu itu. Wanita matahari di sampingku mengeraskan volume radio, lalu tersenyum simpul dengan wajah menghadap jendela. Aku juga ikut tersenyum. Segera langsung setelah lagu itu selesai, aku meminta maaf pada wanita matahari. Aku mengakui salah.

Semenjak itu kami selalu mendengarkan lagu itu, dan tingkah burukku perlahan berubah. Cinta wanita matahari yang begitu tulus, telah merubahku, merubah segalanya tentangku. Aku memutuskan melamarnya, dan dia mau menerima jika aku berubah. Mungkin matahari memang sinar, meski jaim dan sombong, namun ia begitu perhatian, tentu saja juga tulus.
Mimpiku untuk bertanya pada matahari mungkin belum tersampaikan, namun setidaknya cinta matahari telah hadir dalam hidupku melalui wanita itu dan lagu yang sering dinyanyikan di radio mobil, lagu yang menyatukan cinta kami.

***

Dengan Isyarat Samudra
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah hari itu, aku berjuang keras mencari lagu yang dimainkannya menggunakan gitar. Sungguh merdu dan indah saat itu. Aku malu bertanya langsung padanya. Bisa dibilang gengsi. Namun yang belum kuketahui adalah satu hal yaitu mengapa pria itu bisa bermain gitar namun tak pernah mau mengaku, dan malah berusaha sembunyi-sembunyi untuk memainkan gitarnya. Sungguh aneh, kadang aku tidak tahu jalan pikirannya. Dia mengerjakan dan mengumpulkan tugas paling awal, padahal teman-teman yang lain jangankan mengumpulkan, mengerjakan saja tidak. Aneh.

Lihatlah kedalaman tatapannya mata. Sayu namun begitu meneduhkan, melumpuhkan setiap orang yang berbicara langsung berhadapan dengannya. Lihatlah ketenangan, kesejukan deburan ombak pada tepi pantai, yang menyamapaikan sebuah salam dari samudra. Amat tenang. Lihatlah sendiri, tatapan pria itu dan samudra begitu sama.

Aku menulisnya dalam setiap buku harianku dengan nama Pria Samudra. Segalanya tentang pria itu, tentang hal-hal dan prestasi membanggakan yang ditorehkannya. Seperti contoh; Hari ini dia mendapatkan nilai matematika sempurna. Dia memang begitu mengagumkan.

Aku tak pernah benar-benar tahu apa lagu yang dinyanyikannya saat itu, sampai pada suatu saat aku dibuatnya terkejut lagi. Kali ini aku benar-benar terkejut!

Pada saat kumpul kelas pada sebuah kafe di kota kami, tiba-tiba pria samudra itu menghilang, izin ke kamar mandi katanya. Namun kami dikagetkan dengan tiba-tiba dia berdiri pada panggung kafe itu, bernyanyi dan bermain gitar. Dia seperti ingin menyampaikan suatu isyarat, suatu kabar atau apalah pertanda. Pria itu memainkan lagu yang sama dengan lagu yang dulu tak sengaja kudengar. Lagu yang amat indah. Aku benar-benar tak menyangka dia akan berani bernyanyi di depan seperti itu. Setelah dia menyelesaikan lagu itu, dia mengatakan sesuatu hal: Lagu ini untuk temanku, yang duduk disana. Dengan tangannya menunjuk ke arahku. Dia tersenyum dengan isyarat yang menyejukkan dan mendamaikan, sama seperti samudra. Aku luluh. Suara tepukan tangan dari para penonton riuh sekali. Sudah kukatakan, pria samudra itu benar-benar romantis dalam diamnya. Aku tersipu dan tersenyum padanya, senyum paling manis yang pernah kumiliki.

***

Bahasa Kalbu
Aku percaya cinta sejati itu ada. Cinta yang takkan dapat diubah oleh hal apapun di dunia ini. Cinta sejati. Cinta yang saling setia dan mencintai hingga akhir hayat, dengan keduanya berjanji untuk melanjutkan cinta itu nanti pada kehidupan setelah kematian.

Dan sebelum dia pergi beberapa tahun yang lalu, dia telah berjanji untuk menjaga cinta sejati itu. Cinta yang hanya dapat menyampaikan salam melalui bahasa kalbu berupa doa. Ya dan aku pun membalas janjinya. Sebab memang kita sangat saling mencintai, dan percaya takkan ada apapun yang dapat merubah rasa itu.

Meski dia tak pernah ada kabar semenjak dia memutuskan untuk pergi berperang membela negara namun aku masih percaya bahwa cinta kita menyatu. Cinta sejati yang takkan berakhir.

Dan akhirnya tiba malam itu, saat entah sebab apa hatiku benar-benar gelisah. Aku begitu khawatir padanya, aku marah tidak jelas, sesak yang terasa menghimpit dada. Pada saat aku akan memutar kaset lagu itu, kaset itu tidak mau bernyanyi seperti biasanya. Aku mencoba tenang, mencoba memutarnya berkali-kali. Dan tak pernah bisa. Apakah ini sebuah pertanda?

Kenangan-kenanganku pada dia terputar kembali pada saat pertama kali kita berkenalan, lalu saat kita melakukan hal apapun berdua, dan pada saat dia melamarku dengan menyatakan cintanya melalui kaset ini, ia memberikannya padaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kaset ini telah mati. Aku takut, berfirasat bahwa sesuatu yang buruk pasti telah menimpanya. Menimpa seorang pria yang amat aku cintai.

Aku mencoba menenangkan diriku sekali lagi, lalu berdoa dengan bahasa kalbu. Aku memejamkan mata, dan serasa mendapatkan keajaiban kaset itu terputar lagi, lagu itu mengalun pelan. Dan aku merasakan kesejukan yang amat dalam, dia seperti hadir dalam keheningan yang ada pada lirik-lirik lagu itu, mencium keningku, hingga lagu itu berakhir dan mati, berakhir selama-lamanya. Menyisakan satu kalimat terakhir; Nothings gonna change my love for you.

Azinuddin Ikram
Maret 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s