Hujan Yogyakarta

Hujan di Yogyakarta begitu mirip dengan bumbu masakan, tanpa bumbu-bumbu itu masakan takkan memiliki cita rasa khas yang enak dalam lidah. Begitu pula Jogja, dengan segala keistimewaannya, hujan menjadikan Jogja lebih dan lebih istimewa.

Bagi perantau seperti saya, rindu kota asal akan selalu menghantui perasaan dan kalbu. Hujan menjawab kerinduan itu. Hujan di kota asal maupun di Yogyakarta sama, barangkali Tuhan menciptakan rasa rindu, sekaligus penawarnya yaitu; hujan. Hujan sedikit banyak telah mengobati kerinduan kota asal. Melihat hujan mengingatkan tentang kenangan-kenangan yang terjadi di kota asal, istimewanya adalah sekarang sama-sama hujan namun di kota yang berbeda, berada di kota yang istimewa.

Baru saja saya terjebak dalam hujan Yogyakarta, yang tiba-tiba saja deras. Setelah pulang kuliah sore hari, kami teman-teman sekelas terjebak hujan bersama. Lalu timbul percakapan ini.

“Mengapa hujan selalu ada, datang dan datang?” Tanya seorang teman kuliah yang berdiri di samping saya.

“Sebab hujan sudah memliki pengagum, fans berat. Mereka –para fans itu- selalu melakukan pengharapan. Bukankah yang menjadikan manusia hidup adalah sebuah harapan?”

“Berharap hujan datang?”

“Tentu saja.”

“Bisa gitu ya. Apa sih menariknya dari hujan?”

“Coba kamu dengar gemericik suara yang hadir, air yang jatuh dari langit, petrichor yang merindukan, dingin yang menghanyutkan, dan masih banyak lagi. Siapa yang tak kagum dengan fenomena ini?

Kamu diam saja. Barangkali antara mendengarkan perkataan saya atau bisa juga sedang menimbang-nimbang antara terobos tidak hujan yang sedang terjadi.

Saya melanjutkan, “Cinta selalu dekat dengan hujan, mungkin jadi salah satu syarat. Tuhan menciptakan hujan sebab Ia mencintai manusia. Begitu juga pula dunia, hujan menjadikan manusia jatuh cinta padanya, dan tak sedikit kisah asmara dan cinta yang sering kita dengarkan diawali dari hujan.”

“Ah. Aku jadi kangen rumah.”

“Nah, baru saja aku bilang tentang kedekatan cinta dan hujan kan?”

Percakapan itu berakhir saat kamu memutuskan untuk menerobos hujan saja. Kamu -teman kuliah saya- juga seorang perantau, bagaimanapun saat hujan Yogyakarta terjadi telah menimbulkan perasaan rindu, perasaan tak menentu, sekaligus penawar rindu bagi kami-kami seorang perantau.

Basah kuyup tak bisa dihindari meski sudah menggunakan jas hujan saat saya balik kos. Meski begitu saya tetap bersyukur dipertemukan selalu dengan rindu sekaligus penawarnya; Hujan Yogyakarta.

Azinuddin Ikram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s