Sebuah Kado dan Surat Cinta di Dalamnya

Jalanan masih saja lengang pada malam-malam yang berlanjut setelah peninggalanmu dari kota ini, kota kita. Tak ada yang berubah dari kota ini, hanya saja kenangan dan kisah akan terus mengisi kota ini secara bergantian, yang tentu saja dalam setiap sudutnya selalu tanpa ada kamu disana. Baru saja aku berjalan pada jalanan lengang itu, menuju sebuah kantor pos. Bermodalkan jaket tebal, aku memberanikan diri menghadapi sunyinya dingin malam. Kamu tak usah bertanya mengapa aku melakukan itu, kelak kamu akan tahu jawabannya sendiri.

Semula berawal dari pertemuan yang takkan pernah kita duga sebelumnya, namun telah menjadi rencana tuhan yang sangat matang. Kita bertemu begitu saja pada sebuah pertemuan rapat antar organisasi. Lalu berlanjut dan larut dalam kemilau cinta yang meleburkan berbagai rasa dan asa. Aku mengetahui siapa namamu, begitu juga dirimu terhadapku. Aku mengetahui dimana rumahmu, begitu juga dirimu terhadapku. Aku mengetahui bagaimana perasaanmu padaku, begitu juga dirimu terhadapku. Seterusnya dan seterusnya.

Kamu bilang, senja adalah segalanya. Senja adalah peyatu. Bukankah memang senja telah menyatukan siang dan malam? Aku beranikan bertanya padamu, lalu bagaimana dengan fajar? Bukankah memang fajar juga telah menyatukan malam dan siang? Rasanya ini adalah perdebatan yang takkan pernah usai diantara kita, atau sengaja tak diselesaikan. Sebatas mengambang dalam benak penuh gejolak.

Kali ini aku berada di tepian malam, tak usai memikirkanmu. Terjepit atau barangkali terdesak antara senja dan fajar, pada malam-malam yang dingin. Baru saja aku terpaku sebab mendengarkan suaramu dari telepon genggamku, yang tentu saja mengubungkan kita beribu-ribu jarak lebih. Katamu, kamu baru saja menangis membuka kado pemberianku. Mengapa kamu menangis? Kado dariku mengingatkanmu akan kenangan-kenangan di kota ini, tentu saja, aku mengirimkan kado berupa foto-foto kisah di kota ini lengkap beserta bingkainya. Hanya itu? Tidak. Aku juga mengirimkanmu sebuah novel, dua buku puisi, dan lima kisah cerpen hasil karyaku tentang kota ini. Kado yang indah dan romantis, katamu. Oh jangan kamu lupakan juga, jika kamu telisik dalam foto-foto atau tulisan-tulisan pada novel, puisi, atau cerpen disana akan ada surat cinta. Barangkali kamu harus menemukannya, surat cinta yang terselip pada sebuah kado. Kamu tertawa renyah dari seberang.

Lalu sambungan itu terputus, menghilangkan segala kebahagiaan. Kegundahan serta merta menyergap tubuhku yang terbujur kaku. Perlahan aku menghela napas, bukankah baru sejam yang lalu kado kukirimkan lewat pos? Sudah sampaikah padamu?

Azinuddin Ikram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s