Puisi Angin

Izinkan aku mencumbu senja
Bergulat penuh darah dan angan
Menjadi candu dan genggaman kata
Berkata diam meski jiwa berteriak

Menangis pada pelupuk Agustus
Membusuk menjelma debu; menunggumu

Hingga,
Terbujur tersadar
Kaku tertidur,
Meraung-raung terbakar,
Terkunyah termakan,
Berlari terhentak,
Terbuai terlelap,
Jatuh terjerumus.

Lalu,
Tepat pada angin-angin itu; aku terjebak.

Azinuddin Ikram.
September 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s