Soledad

fotografia-conceptual-soledad-2Pria dengan kemeja putih yang amat rapi itu masih melangkah, menyusuri jalanan lengang sebuah kota yang hangus. Pria itu tak henti-hentinya mengingat kenangan. Melihat bangunan perumahan dan gedung-gedung yang terbakar menjadikan hatinya yang lemah itu begidik ketakutan. Ia semacam tak mampu menampung kesedihan. Ia berada saat yang tidak tepat di kota itu; saat kota kesayangannya dirundung kisah paling sedih dalam sejarah bangsa. Sungguh momen yang tak tepat. Sungguh momen mengenaskan.

Ia masih meramu kenangan yang pernah dialaminya dulu. Hingga ia merasa hanyut dan ragu untuk kembali melangkah. Dalam pikirannya tetiba saja kosong, barangkali amat pedih untuk melanjutkan diri demi mengingat kenangan, juga langkahnya terasa berat, sungguh kedua matanya juga tak bisa menahan air mata.

“Bukankah selalu kisah kesedihan yang dapat menjadikan manusia menjatuhkan air mata?” Tanya pria itu begitu saja. Entah pada siapa. Sebab kota itu telah ditinggalkan penduduknya, kota itu kini kosong. Perlahan mengikuti abu-abu asap bekas bangunan yang terbakar, kota itu menjelma kenangan. Mengudara, menguap, lalu hilang, menyisakan puing-puing yang hangus.

Pria itu sebenarnya juga telah tahu bahwa kebahagiaan juga dapat menjadikan manusia menjatuhkan air mata, namun pikirannya telah diselimuti kesedihan yang teramat. Membutakan perasaanya sendiri, rasa-rasanya takkan ada kebahagiaan lagi yang akan ia temukan sepanjang akhir hayatnya.

Selalu ada kisah kesedihan dalam percintaan. Dan naasnya, pria itu akan selalu bersedih terkait masa silamnya tentang seorang wanita yang begitu ia cintai. Wanita bak sosok malaikat, dengan kulit yang memancarkan cahaya serta tatapan mata yang tajam memikat. Pantas saja, pria itu begitu tergila-gila pada daya tarik wanita itu. Dan tampaknya wanita itu juga membalas kasih dari sang pria. Saban malam tiba dua sejoli itu akan menelusuri jalanan kota –yang kini hangus- itu entah sekedar memandangi bola lampu kekuningan sepanjang jalan, entah hanya berjalan-jalan di malam hari, entah hanya melihat-lihat bangunan dan gedung kota itu, entah. Hanya mereka berdua yang tahu.

Sayangnya oh sayangnya. Orang tua dari sang pria tak pernah merestui hubungan pasangan yang sedang di mabuk asmara itu. Beda kasta keluarga, katanya. Maka suatu saat dipindahlah dengan paksa sang pria ke kota seberang. Sudah saya bilang tadi, hati pria itu lemah. Ia tak berani sedikitpun memberontak orang tuanya, ia tak berani memperjuangkan cintanya. Cinta mereka pupus, bukankah selalu akan ada kisah kesedihan dalam percintaan? Kandas begitu saja.

Beberapa bulan setelah itu terjadilah berita geger menimpa kota itu. Pembakaran, penjarahan, pembantaian massal, pemerkosaan, dan segala bentuk kekejian dilakukan orang-orang yang telah murka hatinya terhadap pemerintah. Kekesalan mereka lampiaskan dengan membakar segala bentuk bangunan yang terlihat megah. Maka pria itu akan ditimpa kekecewaan yang luar biasa sebab ia takkan dapat melihat gedung yang indah-indah itu lagi. Beberapa lampu temaram juga telah mati, tanpa cahaya.

Segera setelah mendengar berita itu sang pria kembali mengunjungi kota itu, kota yang kini telah hangus. Sepi. Semua anggota keluarga yang lain telah dibantai. Namun ini tak terlalu menyedihkan sejak ia masih belum mengetahui keberadaan wanita pujaan hatinya. Ia segera mencari ke segala sudut kota yang hangus itu, pada setiap jalanan yang gelap, bau darah begitu menyengat hidung. Ia tak hentinya berfirasat hal buruk tentang kekasihnya. Kenangan yang pernah terjadi menyelinap bagai rol film yang berganti-ganti kisah. Saat hatinya bergetar pertamakali mengenal nama wanitanya. Saat keduanya mengarungi jalanan kota itu. Saat keduanya mengucap janji setia pada lampu-lampu temaram. Saat tetiba orang tuanya melarang keduanya bersama lagi. Segalanya. Segala bentuk kenangan menjadikan ia sedih tak terkira.

Ia berharap tuhan mengabulkan doanya yang terakhir kali; ia hanya ingin menemui wanitanya. Lalu ia akan berbicara lebar tentang banyak hal, tentang betapa ia mencintainya, tentang permintaan maaf, tentang penyesalan-penyesalan keputusannya, juga tentang tidak keberaniannya. Barangkali jika tuhan memberikan kesempatan kedua untuknya ia akan menentang kedua orang tuanya, memilih hidup menderita bersama wanitanya, lalu jika krisis kota ini terjadi maka mereka akan hanyut dan mungkin juga mati bersama.

Seteleh ia lelah mencari dan mencari ia yakin satu hal bahwa tuhan sedang tidak ingin mengabulkan doanya. “Kenangan tentangmu akan tetap hidup dalam jiwa saya. Waktu takkan mampu merubah betapa mencintainya saya padamu. Mengapa kamu meninggalkan saya?” Batinnya baru saja.

Dari kejauhan saya memandangi pria itu, sibuk menerka-nerka. Bukankah pria itu yang sebenarnya telah meninggalkan wanitanya terlebih dahulu? Hingga saya yakin wanitanya telah pergi dengan membawa kebencian teramat amat terhadap pria itu. Tangis pria itu telah mereda baru saja. Ia memejamkan mata, membayangkan wanitanya tetiba hadir dihadapannya.

 

Azinuddin Ikram

Januari 2016.

Foto sumber: lostinbergen.files.wordpress.com/2011/11/fotografia-conceptual-soledad-2.jpg?w=600
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s