Percakapan Diantara Bianglala

img20161202224758

Saya pernah mencoba untuk tidak peduli terhadap perkataanmu; ketika percakapan kami berada diantara bianglala. Ketika kamu mencoba mengatakan dan memaknai kehidupan yang telah kamu lalui sebagai seorang yang tengah mencinta, “Saya mencintaimu, Adeline. Namun saya mengetahui, ada seorang lelaki yang mencintaimu lebih dalam, melebihi dalamnya samudra. Saya sendiri dipaksa untuk mengakui perasaannya yang begitu dalam terhadapmu. Kamu lebih pantas bersamanya, Adeline.”

Ketika itu –jika saya diperkenankan untuk jujur- saya kecewa dengan apa yang telah terjadi pada percakapan itu, mengenai kisah percintaan diantara kami yang saya tidak mengerti pangkal dan ujungnya. Saya mempersalahkan takdir dan kamu. Takdir sebab mengapa tuhan dengan sengaja mempertemukan kami pada keramaian malam itu lalu membawa kami pada salah satu bianglala. Menyalahkan kamu tentu saja sebab kamu memilih diksi semencekam dan seberbahaya itu; mengapa kalimat seperti itu dengan mudahnya terlontar dari bibirmu yang manis?

img20161202225342img20161202225453

Lantas saya bimbang harus berbuat apa. Bianglala kami terhenti berputar, menempatkan kami diatas pucuk, dengan gemerlap bintang terhias pada hamparan langit malam. Saya tak berani berujar mengenai perasaan saya sesungguhnya. Saya tak berani mengungkapkan rasa cinta saya padamu. Barangkali malam sedang tak bersahabat, hingga di keramaian pasar malam pun saya merasa sesak dan hening. Kamu seperti mengharapkan sebuah jawaban, namun saya tak tahu menahu harus bersikap seperti apa. Percakapan kami terhenti. Sunyi.

Saya segera ingin momen itu secepatnya berakhir. Hingga bianglala kembali berputar, kami masih saling terdiam. Agaknya, kamu juga kikuk sendiri setelah mengatakan itu, entah apa yang sedang kamu pikirkan. Barangkali kamu merasakan penyesalan setelah mengucapkan itu? Bahkan hingga kami turun dari bianglala, kami masih saling diam. Lalu setelah itu masing-masing berpisah dalam keramaian pasar malam; tanpa untaian kata atau sekedar ucapan selamat tinggal. Berpisah jauh. Jauh sekali.

 

Azinuddin Ikram
Sekaten Yogyakarta,
Desember 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s