Para Kekasih Bulan

tree-66465_960_720Badala masih merasa bahwa dirinya adalah kekasih bulan yang tak sedikitpun dianggap bulan sebagai kekasih. Berkali-kali sudah ia mencoba mengajak bulan sekedar bercakap-cakap, mencoba membicarakan hal-hal kecil yang sepele, mencoba bercerita tentang kisah romantis, tapi bulan tetap saja acuh. Melirik sedikit pun tidak. Agaknya rayuan Badala tak sebagus para kekasih bulan terdahulu. Selalu saja sunyi yang tersisa setelah Badala berbicara agak lama. Tak ada balasan.

Pernah suatu kali Badala belajar bersenandung demi menyenangkan hati pasangannya; bulan. Dipasanginya ekspresi pengkhayatan lagu pada raut wajahnya. Meski beberapa orang yang kebetulan lewat dan memandang ekspresi Badala akan segera ragu membedakan apakah itu ekspresi mengkhayati lagu atau menahan buang air besar. Begitu mirip. Begitu miris. Beberapa diantaranya tertawa, ada yang menahan tawanya agar tak membuncah, ada yang menundukkan kepala –barangkali malu-, ada yang nyinyir, serta ada yang mengusir. Begitulah masyarakat, bertindak sesuka hati mereka. Namun hal itu tak pernah sedikitpun menyurutkan semangat juang Badala menggapai cintanya. Sungguh kisah percintaan yang patut diacungi jempol.

Suaranya yang meski dianggap oleh Badala sendiri merupakan suara terbaik di dunia, tetapi akan tampak buruk oleh sejumlah pemuda SMA tanggung yang kebetulan lewat naik motor, juga oleh anak-anak kecil jalanan yang pakaiannya kucel dan lusuh. Dengan kasar dan sedikit gunjingan akan mereka lontarkan hingga bibir-bibir mereka terlihat monyong, setelah itu dengan gesit meninggalkan Badala sendiri disertai cekikikan berkepanjangan. Badala jadi punya prasangka buruk pada mereka, barangkali orang-orang yang mengejeknya merupakan musuh bebuyutan dalam perlombaan meminang bulan sebagai kekasih. Siapa cepat mengejar bulan, dia dapat! Maka setelah itu dengan agak marah Badala akan mengejar pesaing-pesaingnya itu seraya mendengus mengatakan, “Bulan hanya untukku, ia kekasihku!”

Dalam pikiran Badala, ia kadang menganggap bulan juga sebenarnya mencintainya, namun sangat disayangkan bahwa bulan belum berhasil melupakan jajaran mantan kekasihnya. Badala meyakinkan dirinya sendiri bahwa bulan butuh suatu proses, barangkali bulan di atas sana juga sedang galau dan berusaha mati-matian mencari cara agar bisa melupakan para kekasihnya terdahulu. Dan tentu saja agar bisa sesegera mungkin bisa berbahagia dengan Badala. Ah Badala jadi malu membayangkan betapa kebahagiaannya yang sebentar lagi akan ia capai. Pernikahan besar-besaran, tatapan cemburu pesaingnya yang kalah, malam pertama, menjalani kehidupan bersama, susah bahagia bersama. Ia jadi tersipu sendiri. Termanggut-manggut dengan senyum terukir penuh harapan serta suka cita.

Sepanjang siang Badala tak henti-hentinya menanti malam. Sepanjang malam Badala tak henti-hentinya memandang bulan dengan harapan malam takkan berganti siang. Ada secercah harapan yang bersinar pada raut-raut wajahnya yang sayu namun juga terlihat tampak tegas dengan semburat-semburat kecil berwarna merah pada dahi dan pipinya. Bekas luka sayatan di wajahnya itu akan selalu membuatnya iba, bekas kenangan masa lalunya yang mengenaskan, tahun 98 silam. Namun tampaknya ia sudah lumayan bahagia saat ini sebab ia sudah memiliki bulan, kekasih yang dianggapnya namun tak menganggapnya. Ia sudah jarang bersedih.

Maka pada malam itu saat Badala ingin melupakan kenangan pahit masa lalunya, ia bersenandung keras-keras, perihal menyanyikan lagu cinta, barangkali agar bulan menoleh dan tak sungkan untuk mendengarkan sedikit saja suara merdunya. Bulan berwarna kuning di tengah gemerlap langit malam yang gelap tak bergeming. Sayangnya justru warga yang sedang tertidur nyenyak sontak terbangun kaget mendengar suara nyanyian bagai lolongan anjing itu. Memang sudah sering warga-warga mendengarkan nyanyian Badala, namun lama kelamaan mereka merasa tak betah juga, dan kebetulan sekali pada malam itu adalah puncak batas kesabaran mereka.

Kemarahan warga malam itu memutuskan suatu kesepakatan baru bahwa Badala harus ditangkap malam itu juga lalu sesegera mungkin dibawa pada pihak-pihak terkait yang semestinya mengurusi Badala. Berbondong-bondonglah mereka ke jalanan menjemput Badala.

Kenangan melihat berbondong-bondong orang dengan wajah marah tiba-tiba memaksa Badala mengingat kembali masa silamnya; saat orang-orang berebut menyakitinya hanya sebab matanya sipit dengan kulit berwarna putih. Luka masih membekas pada dahi, pipi serta jiwanya. Merasa terusik dengan kehadiran banyak orang yang menghampirinya membuat Badala berpikir macam-macam. Siapa gerangan orang-orang ini?

Dalam penglihatan Badala, warga yang berdesak-desakan itu menjelma para kekasih bulan. Satu persatu dari mereka mengaku bahwa ada yang telah menjadi mantan, pacar, calon suami, calon istri, suami, istri, bahkan selingkuhan bulan! Maka mengamuklah Badala malam itu, merasa tersinggung dan kalah, merasa tersaingi oleh para musuh bebuyutannya. Ia menyerang membabi buta tak ingin kekasihnya direbut! Sungguh kisah perjuangan cinta yang romantis dari seorang Badala.

Sumber gambar: pixabay.com/en/tree-kahl-moon-human-group-66465/

Cerpen telah dimuat di Majalah Indikator Sintesa edisi Desember 2016.

Azinuddin Ikram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s