Opini: Definisi Kebenaran

img_0461Setiap orang selalu berhak mendefinisikan kebenaran. Hingga saya yakin bahwa kebenaran ini bermacam adanya, tanpa ada satu hal yang benar-benar benar atau benar-benar salah. Setelah menjelaskan mengenai kebenaran versi masing-masing, manusia-manusia ini sekuat tenaga mempertahankan kepentingan kebenarannya itu, perdebatan, saling menghina serta mengejek kebenaran lain –yang tentu saja dianggapnya sebagai kebenaran yang salah- bahkan perbedaan pandangan ini menyebabkan konflik, kekerasan, saling bunuh, serta peperangan.

Saya tak ingin berprasangka buruk dengan Tuhan terkait pendefinisian-Nya terhadap kebenaran. Seideal apa seharusnya kebenaran itu. Saya berfikir barangkali Tuhan telah memberi sesuatu yang salah mengenai persepsi kehidupan dan kebenaran, atau bisa juga ternyata Ia sengaja mendatangkan kebenaran yang abstrak dan manusia diharuskan untuk menafsirkannya seorang diri. Hanya Tuhan yang tahu juga apa alasannya mengapa manusia tak dapat menemukan kebenaran sejati. Sebab sifat manusia yang bermacam, beraneka ragam ini, meski seolah-olah Tuhan mendatangkan kitab suci –sebagai pedoman hidup dunia dan akhirat- dengan fakta dan cerita yang sama di dalamnya, namun selalu saja terdapat penafsiran yang berbeda dari setiap sudut pandang manusia.

Pernah suatu kali saya dihadapkan dengan perdebatan yang sengit dengan seorang teman mengenai kebenaran. Teman saya bersikeras bahwa kebenaran yang ideal itu benar-benar ada dan idealisnya bahwa manusia dapat digiring bersama kearah kebenaran yang sama. Teman saya menganalogikan, bahwa di dalam gerbong kereta terdapat banyak penumpang, lalu ketika gerbong kereta itu mulai berjalan terdapat satu pohon di luar kereta yang ikut bergeser, hal ini lah yang ia argumentasikan sebagai kebenaran hakiki; bahwa ada pohon yang bergeser seiring kereta yang berjalan, setiap penumpang di gerbong mengakui kebenaran itu.

Sayangnya saya ragu dan kontra terhadap pemikiran idealis teman saya itu, argumentasi saya yakni; bahwa manusia itu entitas yang berdiri sendiri, dengan gaya pemikiran yang berbeda dan tak satu pun yang sama, juga manusia sebagai bentukan lingkungannya dalam mendefiniskan kebenaran, bisa saja penumpang di dalam gerbong itu ada yang sedang tertidur –sebagai bentuk pemberontakan mereka terhadap pemandangan pohon-, atau bisa saja ternyata ada yang sedang tidak memandang pohon melainkan memandang awan. Itu hak penumpang, apakah ia ingin tertidur, melihat pohon, atau melihat awan, melihat hal-hal lain, juga dari sudut pandang ia duduk pun akan mendefiniskan pohon bergeser yang berbeda. Lalu masing-masing dari mereka menceritakan kebenaran yang berbeda dari persepektif yang masing-masing lihat, “Ya saya memandang pohon yang bergeser”, “Ya, saya tidak ingin memandang pohon, saya memandang awan.”, “Haha. Saya malah sedang tertidur!” Dan masing-masing manusia ini mempertahankan kebenarannya, menurut versi mereka masing-masing.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Baik yang memilih memandang pohon, awan, atau tertidur. Namun yang masih saya tak yakini ialah pemaksaan bahwa kebenaran adalah hanya orang-orang yang memandang pohon, bukankah bagi orang yang melihat awan atau tertidur juga merupakan kebenaran bagi mereka? Lantas mengapa kebenaran ini perlu diidealkan? Manusia-manusia yang keras terhadap pemahaman bahwa definisi kebenarannya yang paling benar inilah yang seringkali menghasilkan konflik tak henti-henti, ia melakukan pemaksaan terhadap orang-orang yang mengaku memiliki kebenaran yang berbeda. Nampaknya ramalan Marx bahwa konflik dan pertikaian takkan pernah berhenti di masyarakat ini benar adanya terwujud. Bahkan Marx sendiri gagal mendeskribsikan kehidupan ideal semacam apa yang seharusnya dibangun. Refleksi saya, penyebab pendefinisian kebenaran inilah yang menghancurkan tatanan kebenaran itu sendiri.

Dengan bekal definisi kebenaran masing-masing yang dibawa, sebenarnya apa yang manusia-manusia ini perjuangkan? Hingga terjadi pertikaian yang berlandasakan kepentingan kebenaran, hingga terjadi pembunuhan atas perdebatan siapa yang lebih benar, atas definisi kebenaran melalui agama, agama siapa yang paling benar, seterusnya dan seterusnya. Perenungan saya terhadap kekuasaan Tuhan ini belum berhenti; mengapa Ia membebankan manusia -makhluk yang lemah ini- untuk menafsirkan kebenaran hingga hasilnya ialah; kebenaran yang luarbiasa multitafsir serta konflik tiada henti. Pada akhirnya saya turut serta mendefiniskan kebenaran baru, gagal mendeskribsikan kebenaran yang ideal, lalu saya mencoba menyerah berkecimpung pada kebenaran-kebenaran lain yang jumlahnya tak terhingga.

Azinuddin Ikram.

Tulisan dibuat pada November 2016.
Foto Sumber : Arif Budi D.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s