Sebuah Celoteh Deru Gerbong Kereta

Pagi itu, di dalam gerbong kereta saya berusaha berterimakasih pada bahasa, sebab ia telah dengan teramat cemerlang menciptakan sajak, saya bergumam, “Terimakasih kepada bahasa sebab telah menciptakan sajak, bukankah sajak ialah pelarian terbaik saya ketika bahagia dan patah hati?”

“Kita terasing oleh bahasa kita sendiri. Jacques Lacan –poststrukturalis prancis- bilang tidak ada yang bisa merepresentasikan diri kita, termasuk bahasa sekalipun, hal yang paling dekat dengan kita. Sebab perasaan, kau tahu sendiri, bagaimanapun acapkali tak ada diksi yang tepat untuk mewakili perasaan kita? Bahasa itu terbatas, jangan mau seolah-olah kamu jadi berterimakasih sedemikian rupa oleh bahasa,” sepasang deru kereta beradu seolah gesekannya berbicara demikian.

Saya berusaha menutup telinga terhadap bisikan deru kereta. Namun ia kembali menimpali, “Jangan percaya siapapun, termasuk bahasa. Bahasa mengandung kekuasaan yang tak netral lagi. Kamu akan merasakan bagaimana seolah-oleh ia mencekik dirimu. Hahaha.”

Tawanya yang keras masih terdengar meski saya berusaha menutup telinga saya dengan rapat. Suara deru kereta itu semakin menggoda saya, ia lalu bersajak, ah bukankah ini perawalan bulan juni? bulan yang tabah dan romantis, cocok bagi orang-orang sepertimu, yang tabah diperalat oleh bahasa, yang seakan berlaku romantis dibuai oleh sajak-sajak berisikan kisah percintaan. tentu, barangkali aku mengusikmu dengan bisiskan-bisikan ini, namun bukankah aku adalah kelahiran pikiranmu sendiri?

Saya merekatkan jaket, tanda AC kereta yang semakin dingin. Ketika saya seolah ingin mengumpat terhadap AC dingin jahanam ini, namun deru kereta menyela, “Lihat, bahkan kau gunakan bahasa sebagai caramu untuk mengumpat, haha, tadi saja kamu berterimakasih, sekarang? Kau gunakan bahasa untuk tindak kejahatan.”

Saya tersenyum, menyimpulkan percakapan aneh antara saya dengan deru gerbong kereta, “Jadi menurutmu saya tak perlu berterimakasih pada bahasa?”

Barangkali iya, sebab kita selalu merasa terasing oleh bahasa, betapa menyedihkannya kita.

Saya seolah-olah berusaha tak mendengarkan deru gerbong kereta, lalu saya menyeletuk padanya, “Sedari tadi saya dengar kamu menggunakkan bahasa untuk menyampaikan tujuanmu? Saya rasa setidaknya saya mesti berterimakasih pada bahasa, sebab kau tahu wahai deru gerbong kereta, bahwa saya tengah patah hati. Serta bahasa, yang menghasilkan sajak ini ialah candu bagi perlarian terbaik, saya tidak merasa terasing oleh sajak. Juga, saya mencoba berterimakasih padamu, wahai deru gerbong kereta, sebab telah menemani pagi sunyi saya dalam gerbong kereta, terimakasih atas diskusi bahasa yang menyenangkan.”

Kali ini hanya diam yang hadir. Berkepanjangan. Kereta mulai melambat, mengirimkan saya pada suatu tempat. Dengan hati kacau, saya bergegas turun, bukankah sejujurnya saya ingin mendengarkan jawaban deru gerbong kereta lagi?

Azinuddin Ikram.
1 Juni 2017.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s